<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>.::. OnValue - Media Teknologi Informasi</title>
	<atom:link href="http://onvalue.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://onvalue.wordpress.com</link>
	<description>Just another WordPress.com weblog</description>
	<lastBuildDate>Wed, 27 Feb 2008 04:59:35 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='onvalue.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>.::. OnValue - Media Teknologi Informasi</title>
		<link>http://onvalue.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://onvalue.wordpress.com/osd.xml" title=".::. OnValue - Media Teknologi Informasi" />
	<atom:link rel='hub' href='http://onvalue.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Tivoli’s reporting strategy</title>
		<link>http://onvalue.wordpress.com/2007/10/17/tivoli%e2%80%99s-reporting-strategy/</link>
		<comments>http://onvalue.wordpress.com/2007/10/17/tivoli%e2%80%99s-reporting-strategy/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 17 Oct 2007 03:42:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>onvalue</dc:creator>
				<category><![CDATA[[03] Basis Data]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://onvalue.wordpress.com/2007/10/17/tivoli%e2%80%99s-reporting-strategy/</guid>
		<description><![CDATA[Salah satu aset terbesar produk Tivoli menghasilkan data berasal dari me-monitor lingkungan pelanggan, menganalisa kinerjanya,  merencanakan aktivitas dan melakukan tindakan. Pelaporan mengijinkan untuk membuat keputusan tentang  IT deployments and businesses. Penggunaan sebuah central repository yang unik untuk data manajemen system untuk : Meng-korelasikan dan menganalisa data dari berbagai monitor dalam satu tempat. Menambahkan nilai melalui [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=onvalue.wordpress.com&amp;blog=1872240&amp;post=13&amp;subd=onvalue&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Salah satu aset terbesar produk Tivoli menghasilkan data berasal dari me-monitor lingkungan pelanggan, menganalisa kinerjanya,  merencanakan aktivitas dan melakukan tindakan. Pelaporan mengijinkan untuk membuat keputusan tentang  IT deployments and businesses.<span id="more-13"></span><br />
Penggunaan sebuah central repository yang unik untuk data manajemen system untuk :</p>
<ol>
<li>Meng-korelasikan dan menganalisa data dari berbagai monitor dalam satu tempat.</li>
<li>Menambahkan nilai melalui lintas platform,</li>
<li>Hubungkan dan meneliti data dari berbagai monitor di (dalam) satu tempat</li>
<li>Nilai tambah melalui linta platform business oriented reports berdasarkan sebuah pandangan end-to-end perusahaan</li>
<li>Save costs dan  mempunyai konsistensi data</li>
</ol>
<p><strong>What is a report (and what is not)</strong></p>
<p>Semua laporan mempunyai tujuan yang sama: untuk menyampaikan informasi. Laporan berbeda dengan  dashboards dan banyak cara untuk melakukan business intelligence. Dalam poin ini kita akan mengklasifikasikan untuk didefinisikan.<br />
Laporan menyediakan status kondisi untuk melakukan tindakan berdasar pada suatu waktu .Data dapat berasal dari satu produk atau berbagai produk.</p>
<p>Dashboards tidaklah melaporkan. itu adalah suatu real time view  tunggal atau sekelompok kecil ilmu ukur (e.q. Berapa banyak CPU di perlukan sekarang untuk server tentu ? )</p>
<p>Business Intelligence (Analytical reporting) adalah proses menganalisa data perusahaan dalam jumlah besar, pada umumnya disimpan database besar seperti  Data Warehouse, tracking business performance, detecting patterns dan  trend, dan membantu para pemakai bisnis perusahaan memperbaiki keputusan.</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/onvalue.wordpress.com/13/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/onvalue.wordpress.com/13/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/onvalue.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/onvalue.wordpress.com/13/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/onvalue.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/onvalue.wordpress.com/13/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/onvalue.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/onvalue.wordpress.com/13/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/onvalue.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/onvalue.wordpress.com/13/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/onvalue.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/onvalue.wordpress.com/13/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/onvalue.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/onvalue.wordpress.com/13/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/onvalue.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/onvalue.wordpress.com/13/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=onvalue.wordpress.com&amp;blog=1872240&amp;post=13&amp;subd=onvalue&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://onvalue.wordpress.com/2007/10/17/tivoli%e2%80%99s-reporting-strategy/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/da9ade381a3626aa7e9a8f1f9dd513d3?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">onvalue</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Datawarehouse</title>
		<link>http://onvalue.wordpress.com/2007/10/17/datawarehouse/</link>
		<comments>http://onvalue.wordpress.com/2007/10/17/datawarehouse/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 17 Oct 2007 03:15:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>onvalue</dc:creator>
				<category><![CDATA[[03] Basis Data]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://onvalue.wordpress.com/2007/10/17/datawarehouse/</guid>
		<description><![CDATA[Dataware telah menjadi salah satu syarat yang harus dimiliki oleh perusahaan-perusahan pada saat ini dan terbilang sukses produk teknologi mutakhir. Konsep dataware adalah mengintegrasikan data dari segala sumber yang relevan ke dalam bisnis perusahaan. Idealnya, data yang berasal dari berbagai jenis sitem dengan format yang beraneka ragam ini dimasukkan ke dalam sebuah gudang data (datawarehouse) [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=onvalue.wordpress.com&amp;blog=1872240&amp;post=12&amp;subd=onvalue&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dataware telah menjadi salah satu syarat yang harus dimiliki oleh perusahaan-perusahan pada saat ini dan terbilang sukses produk teknologi mutakhir. Konsep dataware adalah mengintegrasikan data dari segala sumber yang relevan ke dalam bisnis perusahaan.</p>
<p>Idealnya, data yang berasal dari berbagai jenis sitem dengan format yang beraneka ragam ini dimasukkan ke dalam sebuah gudang data (datawarehouse) dengan format standar dan struktur yang baku. Dengan kata lain, sebelum dimasukkan ke datawarehouse, data mentah yang berasal dari beberapa sumber tersebut harus terlebih dahulu ditranslasikan atau dikonversikan ke bentuk standar (baku) format database pada datawarehouse yang bersangkutan dengan struktur relasi yang telah didefinisikan terlebih dahulu.<span id="more-12"></span></p>
<p>Proses konversi ini biasanya dilakukan oleh sebuah program interface yang dapat dikembangkan sendiri atau dibeli di pasaran (untuk beberapa jenis platform). Terkadang tidak semua data relevan untuk dimasukkan ke dalam datawarehouse. Untuk data yang semacam ini, perlu diadakan proses penyaringan (filtering) terlebih dahulu.</p>
<p>Aktivitasnya sendiri dapat dilakukan secara manual atau dengan menggunakan aplikasi tertentu. Masalah lain yang harus diperhatikan sehubungan dengan pengisian data pada datawarehouse adalah hubungan atau relasi antar data yang ada atau struktur data. Sebuah studi untuk menganalisa relasi antar data pada datawarehouse harus dilakukan terlebih dahulu untuk menghasilkan sebuah struktur data yang secara efektif dan efisien menggambarkan keterkaitan antara data yang berasal dari beragam fungsi pada organisasi (internal) dan dari luar perusahaan (eksternal).</p>
<p>Setelah struktur data selesai dibuat dan seluruh data telah ‘dipindahkan’ ke datawarehouse, manajemen perusahaan siap memanfaatkannya secara optimal. Secara umum, beberapa fasilitas yang sering dipergunakan oleh manajemen perusahaan adalah sebagai berikut:</p>
<ol>
<li>Mengelompokkan data berdasarkan kriteria tertentu (grouping), dan melihat keterkaitannya dengan data lain secara multi dimensi. Misalnya: melihat total volume produk yang berhasil dijual untuk masing-masing daerah, melihat nilai penjualan atau revenue produk per kanal distribusi, melihat jumlah salesman per daerah, melihat jenis-jenis produk yang berhasil dijual oleh masingmasing salesman, dan lain sebagainya. Walaupun secara grafis hubungan antar data yang telah dikelompokkan berdasarkan kriteria tersebut hanya dapat ditampilkan dalam format dua atau tiga dimensi, namun secara struktur, data tersebut memiliki hubungan multi dimensi.</li>
<li>Melakukan penyaringan data berdasarkan kriteria tertentu (filtering dan querying). Contohnya adalah mencari gudang-gudang dengan service level di bawah 80%, mencari pelanggan yang telah melakukan transaksi total nilai penjualan 100 juta, mencari karyawan yang tidak pernah mengambil jatah cuti, dan lain sebagainya.</li>
<li>Melakukan peringkasan data (summarizing) dengan cara melakukan perhitungan total seperti yang sering ditemui pada proses-proses konsolidasi (total anggaran, total pengeluaran, jumlah pegawai, nilai transaksi, jumlah pelanggan, sisa produk tak terjual, total piutang, dan lain-lain).</li>
<li>Melihat dan menganalisa karakteristik sebuah kelas entiti secara portfolio, seperti persentasi jumlah penduduk per area geografis, portfolio kinerja (profit and loss) SBU (strategic business unit) dalam sebuah grup usaha, jumlah karyawan per departemen, dan lain-lain.</li>
<li>Menganalisa data lebih jauh dengan cara melihat perinciannya (breakdown atau drilling down). Contoh konkritnya dalam sebuah rumah sakit dimana tercatat dalam satu tahun 1000 pasien berhasil disembuhkan dan 27 pasien tidak berhasil diselamatkan (meninggal dunia). Manajemen dapat melihat lebih jauh, bahwa dari sekian banyak pasien yang meninggal dunia, 13 disebabkan karena keterlambatan penanganan, dan sisanya karena permasalahan lain. Lebih jauh lagi manajemen dapat mencari informasi bahwa dari pasien-pasien yang meninggal karena terlambat ditangani tersebut, 7 orang adalah laki-laki. Dan dari 7 laki-laki tersebut, 5 orang adalah balita.</li>
</ol>
<p>program) dan menyajikannya dengan berbagai macam tampilan dan fasilitas yang user friendly, sesuai dengan kategori pengguna (users). Dilihat dari segi benefit, keberadaan datawarehouse selain mengurangi biaya dalam pembuatan laporanlaporan dan aktivitas yang membutuhkan informasi secara cepat dan akurat, secara signifikan dapat meningkatkan kualitas keputusan yang dibuat oleh manajemen perusahaan (lihat gambar di atas). Ketika datawarehouse belum diperkenalkan di dunia bisnis, perusahaan mengalami kesulitan dalam memproses<br />
informasi yang dihasilkan menjadi suatu knowledge (pengetahuan). Adalah suatu hal yang sulit untuk mengintepretasikan informasi yang sedemikian banyak jumlahnya menjadi sebuah pengetahuan yang relevan dengan kepentingan perusahaan.</p>
<p>Di sinilah fungsi utama dari sebuah datawarehouse, karena dengan knowledge yang baik, manajemen akan dengan mudah mengambil keputusan-keputusan strategis berdasarkan data yang akurat dan informasi yang berkualitas. Karena walau bagaimanapun juga, keputusan strategis akan sangat mempengaruhi kinerja perusahaan. Dilihat dari segi fasilitas atau features yang ditawarkan, terdapat banyak sekali produk-produk unggulan dari berbagai perusahaan terkemuka di dunia<br />
yang menawarkan datawarehousenya.</p>
<p>Untuk memilih yang terbaik, tentu saja harus melalui proses analisa cost/benefit berdasarkan kebutuhan perusahaan. Karakteristik minimal yang harus dimiliki antara lain:</p>
<ol>
<li>Menggunakan filosofi sistem basis data multi-dimensi</li>
<li>Mendukung proses OLAP (On-Line <font size="-1">Analytical</font> Processing)</li>
<li>Mendukung pemrosesan data secara realtime</li>
<li>Memiliki kemampuan konversi data (export dan import) dari standar database lain secara mudah</li>
<li>Menggunakan arsitektur client/server</li>
<li>Memiliki aplikasi tools tambahan untuk menarik dan merepresentasikan data (DSS, EIS, Sales Analyzer, Query Tools, dan lain-lain)</li>
</ol>
<p>Yang harus selalu diingat dalam mengimple-mentasikan datawarehouse adalah filosofi “garbage in, garbage out”. Secanggih apapun datawarehous yang dimiliki jika data yang dimasukkan sudah salah, maka informasi yang dihasilkan pun menjadi salah. Mengambil keputusan berdasarkan informasi yang salah dapat menjadi bumerang bagi perusahaan…..</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/onvalue.wordpress.com/12/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/onvalue.wordpress.com/12/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/onvalue.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/onvalue.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/onvalue.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/onvalue.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/onvalue.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/onvalue.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/onvalue.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/onvalue.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/onvalue.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/onvalue.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/onvalue.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/onvalue.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/onvalue.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/onvalue.wordpress.com/12/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=onvalue.wordpress.com&amp;blog=1872240&amp;post=12&amp;subd=onvalue&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://onvalue.wordpress.com/2007/10/17/datawarehouse/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/da9ade381a3626aa7e9a8f1f9dd513d3?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">onvalue</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Pentingnya SCM, ERP dan CRM</title>
		<link>http://onvalue.wordpress.com/2007/10/11/pentingnya-scm-erp-dan-crm/</link>
		<comments>http://onvalue.wordpress.com/2007/10/11/pentingnya-scm-erp-dan-crm/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 11 Oct 2007 02:45:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>onvalue</dc:creator>
				<category><![CDATA[[02] Manajemen]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://onvalue.wordpress.com/2007/10/11/pentingnya-scm-erp-dan-crm/</guid>
		<description><![CDATA[Perkembangan Teknologi informasi yang diungkapan oleh moore’s law memang benar tetapi inti implementasi adalah adanya alignment antara bisnis dengan TI untuk mendapatkan benefit yang optimal, dalam setiap organisasi atau perusahaan apapun orientasinya, semua itu akan mengarah ke economic scale dan scope, ditilik dari pemahaman tersebut organisasi ataupun perusahaan sebenarnya memerlukan 3 (tiga) modul utama yaitu [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=onvalue.wordpress.com&amp;blog=1872240&amp;post=11&amp;subd=onvalue&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Perkembangan Teknologi informasi yang diungkapan oleh moore’s law memang benar tetapi inti  implementasi adalah adanya alignment antara bisnis dengan TI untuk mendapatkan benefit yang optimal, dalam setiap organisasi atau perusahaan apapun orientasinya, semua itu akan mengarah ke economic scale dan scope, ditilik dari pemahaman<span id="more-11"></span> tersebut organisasi ataupun perusahaan sebenarnya memerlukan 3 (tiga) modul utama yaitu :</p>
<ol>
<li>Supplay chain management</li>
<li>Enterprise Resource Planning</li>
<li>Customer Relationship Management</li>
</ol>
<p><strong>Supplay Chain Management</strong><br />
Manajemen Rantai Suplai (Supply chain management ) adalah sebuah ‘proses payung’ di mana produk diciptakan dan disampaikan kepada konsumen dari sudut struktural. Sebuah supply chain (rantai suplai) merujuk kepada jaringan yang rumit dari hubungan di mana organisasi mempertahankan dengan rekan bisnisnya untuk mendapatkan sumber produksi dalam menyampaikan kepada konsumen.(Kalakota, 2000, h197) .<br />
<strong>Enterprise Resource Planning</strong><br />
ERP(Enterprise Resource Planning) System adalah sistem informasi yang diperuntukkan bagi perusahan manufaktur maupun jasa yang berperan mengintegrasikan dan mengotomasikan proses bisnis yang berhubungan dengan aspek operasi, produksi maupun distribusi di perusahaan bersangkutan.<br />
<strong>Customer Relationship Management</strong><br />
Manajemen Hubungan Pelanggan (bahasa Inggris: Customer Relationship Management disingkat CRM) adalah suatu jenis manajemen yang secara khusus membahas teori mengenai penanganan hubungan antara perusahaan dengan pelanggannya dengan tujuan meningkatkan nilai perusahaan di mata para pelanggannya.</p>
<p>Ketiga modul tersebut adalah inti kebutuhan organisasi, di era informasi saat ini untuk mendapatkan modul tersebut sangat mudah, opensource memberikan peluang untuk mendapatkannya, bila organisasi memiliki kemampuan untuk menginvenstasikan modul tersebut dapat memilih produk komersial yang ditawarkan oleh beberapa vendor. Tetapi intinya adalah bagaimana modul tersebut dapat memberikan benefit bagi organisasi.</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/onvalue.wordpress.com/11/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/onvalue.wordpress.com/11/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/onvalue.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/onvalue.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/onvalue.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/onvalue.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/onvalue.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/onvalue.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/onvalue.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/onvalue.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/onvalue.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/onvalue.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/onvalue.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/onvalue.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/onvalue.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/onvalue.wordpress.com/11/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=onvalue.wordpress.com&amp;blog=1872240&amp;post=11&amp;subd=onvalue&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://onvalue.wordpress.com/2007/10/11/pentingnya-scm-erp-dan-crm/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/da9ade381a3626aa7e9a8f1f9dd513d3?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">onvalue</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Perana Outsourcing Teknologi Informasi dalam meningkatkan keunggulan Kompetitif</title>
		<link>http://onvalue.wordpress.com/2007/10/10/perana-outsourcing-teknologi-informasi-dalam-meningkatkan-keunggulan-kompetitif/</link>
		<comments>http://onvalue.wordpress.com/2007/10/10/perana-outsourcing-teknologi-informasi-dalam-meningkatkan-keunggulan-kompetitif/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 10 Oct 2007 06:55:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>onvalue</dc:creator>
				<category><![CDATA[[02] Manajemen]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://onvalue.wordpress.com/2007/10/10/perana-outsourcing-teknologi-informasi-dalam-meningkatkan-keunggulan-kompetitif/</guid>
		<description><![CDATA[Perusahaan di masa era informasi adalah masa transformasi yang revolusioner, Kinerja perusahaan tidak hanya dinilai dari sisi financial dan aktiva tetapi membahas segala aspek yang harus menyediakan cost leadership, diffrention, dan focus. Era informasi perusahaan lebih responsif untuk menjawab tantangan pasar, persiapan untuk menghadapi tantangan perusahaan saat ini banyak mulai memutuskan untuk outsourcing untuk memperbaiki [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=onvalue.wordpress.com&amp;blog=1872240&amp;post=10&amp;subd=onvalue&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Perusahaan di masa era informasi adalah masa transformasi yang revolusioner, Kinerja perusahaan tidak hanya dinilai dari sisi financial dan aktiva tetapi membahas segala aspek yang harus menyediakan cost leadership, diffrention, dan focus. Era informasi perusahaan lebih responsif untuk menjawab tantangan pasar, persiapan untuk menghadapi tantangan perusahaan saat ini banyak mulai memutuskan untuk  outsourcing untuk memperbaiki kinerja perusahaan terkait dengan proses bisnis yang bukan merupakan core competence  atau core business-nya. Diharapkan dengan menyerahkan pengelolaan proses tersebut ke tangan perusahaan lain sebagai mitra bisnis yang memiliki core business di bidang tersebut, terciptalah sebuah proses dengan kinerja optimal<span id="more-10"></span></p>
<p><strong>Keyword :  </strong><em>Outsourcing, core business</em></p>
<p><strong>Pendahuluan</strong><br />
Menerapkan metodologi penelitian dengan Review literature dan observasi. dari beberapa literature yang kumpulkan kami dapat menarik garis besarnya sebagai berikut :</p>
<p>Menurut Anthony diromulado dan vijay Gurbaxani (Strategic intent for IT Outsourcing<br />
,Sloan Management Review, Summer 1998, 3,4 Academic Research Library) menyatakan bahwa tiga pokok utama outsourcing IT untuk memperbaiki IS yaitu meningkatkan kinerja bisnis, menghasilkan pendapatan baru dan yang dapat membantu perusahaan untuk menilai outsourcing. Untuk mencapai tujuan strategis perusahaan dengan pertimbangan mengurangi biaya dan meningkatkan efisiensi sumber daya IT dengan memperbaiki IS yang sesuai dengan bidang bisnis, akan tetapi tujuan eksplorasi komersial tentang aplikasi, operasi, infrastruktur dan mengetahui bagaimana memperkenalkan ke pasar berdasarkan produk dan layanan.</p>
<p>Berdasarkan pertimbangan tersebut tercetus tentang insentif klien dan vendor outsourcing untuk sharing resiko dan rewards yang didapat berdasarkan tipe kontrak, hak putusan, pengukuran kinerja. Senior manajer memerlukan pedoman untuk merencanakan transformasi pengelolahan IS berdasarkan proses system standard dengan system core bisnis dengan platform teknologi yang global dan juga memikirkan transfer kepemilikan dan tanggung jawab asset IT dari pelanggan ke vendor outsourcing yang merupakan kritikal untuk sukses.<br />
Dari semua yang dilakukan perlu adanya evaluasi Outsourcing TI dan hubungan structural, sebagai seorang manager IS dan bisnis akan selalu ingat kebutuhan untuk kesuksesan, konsisten, kompentensi, kompatibilitas dan kelanjutan dari asset TI organisasi.<br />
Menurut IT Governance Institute (Governance of Outsourcing ISBN 1-933284-13-7) memberikan aturan bakuan untuk outsourcing yang memiliki tahapan outsourcing life cycle sebagai berikut :<br />
Presignature :</p>
<ol>
<li>Kesesuaian penanda tanganan kontrak dan penanda tanganan proses yang diselesaikan.</li>
<li>Persetujuan Service Level Agreement (SLA)</li>
<li>Proses Opersional yang dikembangkan</li>
<li>Transisi tahapan layanan dan waktu pembayaran</li>
<li>Tim operasional, artikulasi yang jelas hubungan dan interface</li>
<li>Transisi dan Transformasi rencana penyelesaian</li>
<li>Undang-undang sukses, bonus dan penalty</li>
<li>Konsensus dalam menentukan tanggung jawab</li>
<li>Penilaian kelanjutan kinerja dan gaya supplier outsource</li>
</ol>
<p><strong>Transition</strong></p>
<ol>
<li> Transisi staf</li>
<li>  Kunci Pengetahuan dan keahlian yang dipertahankan atau diperoleh</li>
<li>  Melaksanakan pengelolahan layanan untuk menyelesaikan</li>
<li>  Layanan yang dideliver ke SLA/OLA baru</li>
<li>  Kerangka kerja untuk memonitor dampak</li>
<li>  Program perbaikan berkelanjutan</li>
<li>  Tinjauan dan perbaikan prosedur</li>
</ol>
<p><strong>Transformation</strong></p>
<ol>
<li>  aturan aktivitas yang digabungkan</li>
<li>  menyelenggarakan layanan, mengoperasikan dan melaporkan</li>
<li>  Benchmarking yang dibangun</li>
<li>  Biaya Proyek diukur berdasarkan implementasi</li>
<li>  Manfaat yang dikelola</li>
<li>  Asset sejalan dengan kebutuhan</li>
<li>  Perubahan Dan Manajemen Lingkungan yang sukses</li>
</ol>
<p><strong>Quick Wins dan Steady State</strong></p>
<ol>
<li>  Kontrak yang kadaluwarsa</li>
<li>  Benchmarking untuk menunjukan kurang kompetitif</li>
<li>  Pelanggaran atas kontrak</li>
<li>  Hubungan pekerjaan yang tidak dapat dilaksanakan</li>
</ol>
<p>Menurut Hazael Taylor (Outsourced IT Projects from the vendor Perspective : Different Goals, Different Risks, University of Washington, USA) menyatakan bahwa Outsourcing pada proyek multinasional IT menjadi lebih umum dalam mengelola resiko proyek untuk menghindari gagalnya proyek dengan mencatat resiko yang spesisifk dan membedakan dari pesaing maupun vendor outsourcing yang tidak kompenten, ini dapat ditentukan dengan mengenali factor-faktor resiko yang dapat diidentifikasikan atau dikelompokan, yaitu :<br />
<strong> Project Management Risks</strong></p>
<ol>
<li>  Technology Risks</li>
<li>  Relationship Risks</li>
<li>  Vendor Internal Negotiations</li>
<li>  Vendor Team Morale</li>
<li>  Client Trust</li>
<li>  Client Organization Culture</li>
</ol>
<p><strong> Location Risks</strong></p>
<ol>
<li>  Vendor Overseas Head Office</li>
<li>  Non Local Third Party</li>
</ol>
<p><strong> Commercial Environment Risks</strong></p>
<ol>
<li>  Vendor’s Reputation</li>
<li>  Vendor’s Competition</li>
<li>  Legal and Credit Risk</li>
<li>  Contract Term and Conditions</li>
</ol>
<p><strong> Factors non identified</strong></p>
<p>Menurut Kaplan dan Norton (1996), kinerja perusahaan yang dinilai menggunakan indicator financial saja tidak lagi dianggap cukup, alasannya ukuran financial hanya menggambarkan situasi masa lalu, dan hanya dapat dilakukan untuk perusahaan yang semua investasinya berjangka panjang.</p>
<p>Sumber :  http://www.agrifood.info/perspectives/2000/Shadbolt.html#Kaplan</p>
<p>Sedangkan era teknologi informasi, perusahaan yang dapat bertahan adalah perusahaan yang mampu menciptakan nilai tambah dengan melakukan investasi pada pelanggan, pegawai, proses, teknologi yang digunakan, serta inovasi.</p>
<p>Tahun 2004, IT Governance Institute, bersama dengan Ligthouse Global, mensurvey 200 IT Profesional dari 14 Negara di amerika, asia-pasifik dan eropa, responder termasuk CIOs, Direktur TI, dan Manager TI dari berbagai perusahan dengan pendapatan tahunan lebih dari AS$ 50 juta. Survey menyoroti beberapa tema kunci yang mendriven strategis organisasi untuk mempertimbangkan outsourcing dan bagaimana diterapkan dan diatur.<br />
<strong>Era Informasi</strong><br />
Untuk menganalisa, me-review, membandingkan dan membedakan argument dari beberapa pemikiran yang dipaparkan pada pendahuluan perlu juga melihat kondisi Era Informasi sehingga akan mendapatkan holistic view pengaruh Outsourcing. Tingkat persaingan bisnis meningkat dengan meningkatnya kebutuhan teknologi informasi yang dapat meningkatkan nilai bisnis, ini dapat dicerminkan dalam karakteristik stratejik secara umum memiliki beberapa factor yaitu : cost leadership, differentiation, dan focus  dari melihat itu semua, saat ini adalah masa transformasi yang revolusioner. Persaingan abad industri telah bergeser kepada persaingan abad informasi. Selama abad industri, dari tahun 1850 sampai sekitar tahun 1975, keberhasilan ditentukan oleh seberapa baik perusahaan memanfaatkan keuntungan yang diperoleh dari skala dan ruang lingkup ekonomis (economies of scale and scope). Keberhasilan yang diperoleh oleh perusahaan yaitu seberapa besar suatu perusahaan dapat menanamkan teknologi baru dan menawarkan produk yang standar secara masal dan efisien.</p>
<p>Selama abad industri, system pengendalian keuangan dikembangkan di dalam sebuah perusahaan, hal ini untuk memfasilitasi dan memantau alokasi modal financial dan fisik secara efisien. Penggunaan modal financial dan fisik oleh berbagai divisi operasi dapat dipantau dalam rangka menciptakan nilai tambah bagi para pemegang saham.</p>
<p>Munculnya abad Informasi, dalam beberapa decade terakhir abad ke-20, telah banyak membuat asumsi dasar tentang persaingan abad industri. Perusahaan tidak dapat lagi menghasilkan keunggulan kompetitif yang berkesinambungan hanya dengan menerapkan teknologi baru ke dalam aktiva fisik secara cepat atau hanya dengan menerapkan manajemen aktiva dan kewajiban financial. Dampak revolusioner abad informasi lebih dirasakan oleh perusahan local maupun multinasioanl, khusunya perusahaan lokal dibawah naungan incumbent yang selama puluhan tahun tumbuh dalam lingkungan yang nyaman dan tidak kompetitif. Mereka hanya mempunyai sedikit kebebasan dalam memasuki usaha dalam menetapkan harga produk. Sebagai imbalannya, berbagai peraturan pemerintah melindungi perusahaan dari para pesaing yang lebih efisien dan inovatif, serta menetapkan harga yang memungkinkan pengembalian atas investasi dan biaya yang telah dikeluarkan. Selama dua decade terakhir menunjukkan munculnya berbagai inisiatif deregulasi dan privatisasi penting perusahaan jasa diseluruh dunia. Ketika teknologi informasi menciptakan benih kehancuran perusahaan jasa dan yang dalam abad industri yang sebelumnya banyak mendapatkan perlindungan dari pemerintah.</p>
<p>Untuk mencapai keberhasilan kompetitif, lingkungan abad informasi mensyaratkan adanya kemampuan baru yang harus dimiliki oleh perusahaan. Kemampuan sebuah perusahaan untuk memobilisasi dan mengekspolorasi aktiva menjadi jauh lebih menentukan.</p>
<p><strong>Analisa Artikel</strong><br />
Dari beberapa artikel yang dipaparkan dalam pendahuluan ada beberapa kesamaan pengaruh IT Outsourcing dalam organisasi yatiu :</p>
<ul>
<li>  Memperbaiki strategis IS organisasi</li>
<li>  Mencegah resiko yang timbul</li>
<li>  Organisasi dapat focus terhadap core businessnya, sehingga dapat meningkatkan keunggulan kompetitif</li>
<li>  Bakuan standard untuk melakukan Outsourcing yang dijabarkan dengan beberapa metodologi</li>
<li>  Selain itu yang membedakan pengaruh IT outsourcing organisasi adalah Budaya Organisasi, Political, sumber daya  dan struktur organisasi.</li>
</ul>
<p><strong>Tahapan Outsourcing</strong><br />
Dari penjabaran diatas, bahwa era informasi yang mendukung keunggulan kompetitif kebutuhan organisasi akan outsourcing menjadi penting, kesamaan dari argumen dari dampak outsourcing pengendalian resiko dan proses seleksi provider atau peng-outsource baik dari sisi internal maupun sisi eksternal yang dipengaruhi oleh empat frame organisasi yaitu structural, human resources, political, dan symbolic untuk tercapainya objektivitas organisasi.<br />
Secara umum proses outsourcing dapat dilakukan dengan planning, outsourcing, seleksi strategi, cost analysis, seleksi vendor outsourcing, negosiasi, transisi resource dan hubungan manajemen. Cost analysis dalam kerangka outsourcing merupakan, aktivitas pendataan main cost dari aktivitas yang di outsource kan sebelum dan sesudah, dan evaluasi dampak business value dengan mempertimbangkan :</p>
<ol>
<li> Pengelompokkan biaya yang berpengaruh/signifikan, gunakan hukum pareto (80/20), aktivitas biaya-biaya yang akan dioutsource dicatat dan dimonitor.</li>
<li>Sebelum melakukan outsourcing perhitungkan biaya biaya yang telah dikelompokkan, apakah nantinya memiliki keuntungan.</li>
<li>Setelah Outsource, hitung ulang seperti langkah b dan analisa dampak setelah outsource.</li>
<li>Gunakan cost-benefit analysis untuk mendapatkan hasil dari outsourcing apakah berdampak negatif atau posifit untuk perusahaan.</li>
</ol>
<p>Adapun tahapan dalam outsourcing life cyle yang menurut IT Governance dalam Outsourcing Governance, Organisasi untuk mengadopsi best practice, Outsourcing life cycle harus mengerti operasional dan strategical sebagai  dukungan control tiap tahan life cycle .tujuan lebih luas dengan menerapkan model life cycle, organisasi akan lebih baik mengelola, mengurus, mengalokasikan sumber daya  secara efektif lintas area selanjutnya.  yang digambarkan pada figure 5 – outsourcing life cycle..</p>
<p>Dengan mempertimbangkan :</p>
<ol>
<li>Memastikan bawah outsourcing adalah sesuai yang mungkin dapat diterima dengan pemahaman bisnis organisasi dan operasi strategi (baik strategic planning maupun tactical planning).</li>
<li>Menentukan tipe outsourcing dan hubungannya dengan kebutuhan konsumsi     jasa, sedangkan ini adalah terpisah, konsisten dan mempunyai karakteristik     yang sederhana, hubungan berdasarkan pasar (market-based).</li>
<li>Membangun proses aturan outsourcing dan kerangka sebelum kontrak ditandatangani. Ini menyediakan acuan untuk aturan dan menunjang semua bagian untuk melihat tujuan kontrak, harapan, peranan, tangung jawab inisiatif aturan (responsibilities of the governance initiative).</li>
<li>Lakukan penelitian. Organisasi harus melakukan penelitian pada organisasinya sendiri (untuk memahami, mengukur, dan memenuhi persyaratan kebutuhan outsourcing) dan memilih provider/peng-outsource yang potensial dapat melakukannya.</li>
<li>Lakukan negosiasi ulang kontrak untuk jangka waktu tertentu untuk memastikan harapan dan rencana apakah telah tercapai, bila perlu mendapatkan alternatif dengan calon provider lain.</li>
</ol>
<p><strong>Benefit Outsourcing</strong><br />
Outsourcing cleaning Service PT Swasta jakarta, yang menjadi penelitian kami dasar pertimbangannya adalah dengan menyerahan pekerjaan ke pihak lain, yang tentu lebih profesional dalam melakukannya, diharapkan akan diperoleh suatu dukungan yang lebih baik. Sementara, perusahaan peng- outsource pekerjaan itu dapat lebih berkonsentrasi pada inti bisnis yang dijalankan, sehingga berpeluang menjadi lebih kompetitif. Keputusan suatu perusahaan untuk melakukan outsourcing, dewasa ini, tak selalu dikarenakan ketidakmampuan melakukannya sendiri. Pertimbangan biaya memang selalu dijadikan alasan,termasuk aturan ketenaga kerjaan tetapi nilai strategisnya juga tak kurang menjadi perhatian yang sangat penting.<br />
Dengan penyerahan pekerjaan ke pihak lain, yang tentu lebih profesional dalam melakukannya, diharapkan akan diperoleh suatu dukungan yang lebih baik. Sementara, perusahaan peng- outsource pekerjaan itu dapat lebih berkonsentrasi pada inti bisnis yang dijalankan, sehingga berpeluang menjadi lebih kompetitif.<br />
Begitu pula, outsourcing TI kini telah menjadi salah satu solusi bagi perusahaan besar, meski tak tertutup kemungkinan dilakukan oleh perusahaan kecil. Karena, secara prinsip, outsourcing merupakan penyerahan suatu pekerjaan kepada pihak ketiga, di luar perusahaan sendiri, dengan persyaratan dan pembayaran tertentu dan, biasanya, untuk jangka waktu tertentu pula.<br />
Tak jarang, outsourcing yang dijalin dengan baik, berubah menjadi suatu bentuk kemitraan strategis jangka panjang yang saling menguntungkan bagi kedua belah pihak. Namun, dalam mengikat bentuk kerjasama outsourcing itu, perusahaan peng- outsource perlu secara sungguh-sungguh memilih pekerjaan apa saja yang layak dan perlu di outsource , berapa besar biaya yang harus dikeluarkan untuk itu, baik jangka pendek maupun jangka panjang, dan bagaimana kompetensi pelaksananya. Bagaimana keuntungannya bagi perusahaan, baik dilihat dari segi nilai kompetitif bisnis, pengembangan kompetensi, peningkatan produktivitas SDM dan daya saing perusahaan.<br />
Benefit yang didapat dari Outsourcing dapat berupa tangible (seperti keseimbangan biaya outsourcing yang dikeluarkan) dan intangible (tingkat pelayanan yang diberikan secara professional). Tak heran bila kebutuhan terhadap jasa outsource ini semakin meningkat dari tahun ke tahun.<br />
Alasan utama dari perusahan peng-outsource menurut Outsourcing governance oleh IT Governance Institute tahun 2004 adalah :</p>
<ol>
<li>Kurangnya keahlian teknikal internal</li>
<li>Mengurangi Biaya/Cost</li>
<li>Kesesuaian bisnis / Business alignment</li>
<li> Inflexible first pass contract governace processes</li>
</ol>
<p><strong>Kesimpulan</strong></p>
<p>Kesuksesan Keunggulan Kompetitif suatu organisasi dengan menerapan IT Outsourcing, berdasarkan pertimbangan penerapan praktek-praktek outsourcing yang baik dapat menggunakan outsourcing life cycle yang dikembangkan oleh IT Governance Institute atau menggunakan PMBOK (Project Management Body of Knowledge) khususnya Procurement Management dan juga gabungan keduanya, semua kegiatan outsourcing dipengaruhi juga oleh triangle constraint (scope, cost dan time), komponen infrastruktur (people, process, technology) dan empat frame organisasi, untuk mencegah potensial resiko, sehingga organisasi dapat focus terhadap core businessnya.</p>
<p><strong>Referensi</strong></p>
<ol>
<li> Anthony Diromualdo, Vijay Gurbaxani, Strategis Intent for IT Outsourcing, Sloan Management Review, Summer 1998, 39,4, Academic Research Library</li>
<li>Matthew Weigelt, Outsourcing : Is it the next big thing or not?, Federal Computer Week, Feb 26,2007,21,4, ABI/INFORM Trade &amp; Industry</li>
<li>IT Governance Domain Practices and Competencies, Governance of Outsourcing, The IT Governance Institute,2005 ISBN 1-933284-13-7</li>
<li>An Exploration Of The Use Of The Balanced Scorecard Approach To Achieve Better Farm Business Planning And Control,Shadbolt N.M. and Rawlings K.M., College of   Sciences,Massey University,Palmerston North, New Zealand (http://www.agrifood.info/perspectives/2000/Shadbolt.html#Kaplan)</li>
<li>Essential Economics: Economies of Scale and Scope (http://www.tutor2u.net/economics/content/essentials/economies_scale_scope.htm)</li>
</ol>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/onvalue.wordpress.com/10/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/onvalue.wordpress.com/10/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/onvalue.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/onvalue.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/onvalue.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/onvalue.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/onvalue.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/onvalue.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/onvalue.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/onvalue.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/onvalue.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/onvalue.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/onvalue.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/onvalue.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/onvalue.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/onvalue.wordpress.com/10/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=onvalue.wordpress.com&amp;blog=1872240&amp;post=10&amp;subd=onvalue&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://onvalue.wordpress.com/2007/10/10/perana-outsourcing-teknologi-informasi-dalam-meningkatkan-keunggulan-kompetitif/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/da9ade381a3626aa7e9a8f1f9dd513d3?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">onvalue</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Review Developing and Implementing a Strategy for Technology Deployment</title>
		<link>http://onvalue.wordpress.com/2007/10/10/review-developing-and-implementing-a-strategy-for-technology-deployment/</link>
		<comments>http://onvalue.wordpress.com/2007/10/10/review-developing-and-implementing-a-strategy-for-technology-deployment/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 10 Oct 2007 04:58:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>onvalue</dc:creator>
				<category><![CDATA[[02] Manajemen]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://onvalue.wordpress.com/2007/10/10/review-developing-and-implementing-a-strategy-for-technology-deployment/</guid>
		<description><![CDATA[Artikel Collen Shupe and Robert Behling sangat menarik untuk dibahas, Pemahaman strategi organisasi adalah suatu kebutuhan untuk mengembangkan suatu strategi TI (Teknologi Informasi) yang efektif. Pengembangan suatu perencanaan strategis untuk teknologi harus mendapatkan dukungan manajemen senior. Konsep kesesuaian yang diperlukan saat ini dinamakan arsitektur perusahaan yang membawa bisnis dan TI bersama-sama. mengidentifikasi komponen arsitektur utama [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=onvalue.wordpress.com&amp;blog=1872240&amp;post=9&amp;subd=onvalue&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Artikel Collen Shupe and Robert Behling sangat menarik untuk dibahas, Pemahaman strategi organisasi adalah suatu kebutuhan untuk mengembangkan suatu strategi TI (Teknologi Informasi) yang efektif. Pengembangan suatu perencanaan strategis untuk teknologi harus mendapatkan dukungan manajemen senior.<span id="more-9"></span></p>
<p>Konsep kesesuaian yang diperlukan saat ini dinamakan arsitektur perusahaan yang membawa bisnis dan TI bersama-sama. mengidentifikasi komponen arsitektur utama dari kesesuaian pandangan hubungan antara komponen yang akan dibutuhkan. Rencana Teknologi harus jelas, bersih, ringkas, dan dapat dimengerti oleh para profesional bukan TI. Sebagai perencanaan strategis dikembangkan dan proyek dikenalkan dan diprioritaskan, diperkirakan imbalan keuangan harus dimasukkan untuk memastikan organisasi memelihara profitabilitas.</p>
<p>Pengendalian Biaya pemeliharaan mulai dari permulaan proyek sampai merancang identifikasi, perencanaan, analisa, disain, dan implementasi. Suatu informasi tunggal keamanan untuk mengukur dalam mengisolasi sesuatu yang tidak mungkin berhasil oleh karena itu, suatu organisasi mengevaluasi dan menetapkan berbagai ukuran untuk mempertahankan tujuan dan kebutuhannya. Dari melihat itu semua itu, bener bahwa kesuksesan Penyebaran Teknologi informasi membutuhkan dukungan dari tingkat eksekutif yang sesuai dengan visi dan arsitektur perusahaan, tetapi juga perlu adanya komitmen dari segenap pimpinan dan karyawan perusahaan untuk merubah budaya kerja (change management) sehingga hal ini menjadi kunci kesuksesan menerapkan teknologi informasi, jadi dapat dikatakan bahwa bisnislah yang mendrive teknologi, sehingga apapun teknologi yang diterapkan harus disesuaikan dengan bisnisnya, sehingga akan memberikan nilai bisnis terhadap sebuah organisasi.<br />
Kesesuaian antara bisnis proses dengan Teknologi Informasi merupakah sebuah masalah utama di dalam sebuah organisasi, kesesuaian heuristik arsitektur perusahaan yang menurut microsoft data network , digambarkan dalam empat komponen dasar yaitu : Arsitektur Bisnis, Arsitektur Informasi, Arsitektur Aplikasi, dan Arsitektur Teknikal tetapi perlu diingat juga selain komponen diatas masalah yang biasanya dapat timbul dari kurangnya strategi yang coherent untuk investasi IS/IT seperti :</p>
<ol>
<li>Kesempatan bisnis yang hilang, yang dikarenakan kerugian oleh pengembangan IS/IT lain. Investasi sistem dan teknologi yang tidak mendukung tujuan bisnis dan menjadi kendala untuk pengembangan bisnis.</li>
<li>Kurangnya integrasi sistem dan pengelolaan informasi yang tidak tersedianya informasi untuk mengelola informasi.</li>
<li>Prioritas tidak berdasarkan kebutuhan bisnis, tingkat kesuksesan yang tidak optimal, rencana proyek yang berubah-ubah. Kinerja bisnis yang tidak baik, biaya yang diperlukan, solusi yang berkualitas rendah, dan produktivitas IS/IT yang rendah.</li>
<li>Strategi teknologi yang incoherent, incompatible options yang dipilih dan jumlah besar uang yang sia-sia.</li>
<li>Kurangnya pengertian dan yang disetujui langsung antara pemakai, manajemen senior</li>
</ol>
<p>Untuk masalah anggaran bukan hanya tangible cost dan intangible cost tetapi yang perlu dipikirkan adalah apakah anggaran yang diminta sesuai dengan kebutuhan atau sebuah keinginan, bila merupakah sebuah keinginan bukan menjadi prioritas utama tetapi dapat dilakukan pada waktu bener-benar diperlukan, akan tetapi bila merupakan kebutuhan harus didapatkan dari penjabaran rencana strategi yang diturunkan menjadi rencana operasional, inipun harus dilihat juga apakah diperlukan untuk jangka panjang atau jangka pendek, artinya disini adalah seluruh anggaran berdasarkan dari kegiatan-kegiatan yang akan mendukung rencana strategis, sehingga dalam menerapkan infrastruktur teknologi pun misalnya tentang keamanan jaringan juga harus dilihat dan dianalisa apakah catatan aktivitas tentang keamanan jaringan sudah sangat terancam baik dari sisi internal maupun sisi eksternal, untuk mendapatkan kebutuhan yang sesuai dengan kondisi yang ada, untuk mengurangi pembelian yang under spesification ataupun over spesification.<br />
Dari semua yang dijabarkan diatas dapat ditarik semua kesimpulan bahwa pengembangan dan implementasi strategi untuk penyebaran teknologi dalam sebuah organisasi disesuaikan dengan kebutuhan bisnis atau dengan kata lain strategis bisnis mendrive Strategi IS/IT begitu pula sebaliknya.</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/onvalue.wordpress.com/9/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/onvalue.wordpress.com/9/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/onvalue.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/onvalue.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/onvalue.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/onvalue.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/onvalue.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/onvalue.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/onvalue.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/onvalue.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/onvalue.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/onvalue.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/onvalue.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/onvalue.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/onvalue.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/onvalue.wordpress.com/9/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=onvalue.wordpress.com&amp;blog=1872240&amp;post=9&amp;subd=onvalue&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://onvalue.wordpress.com/2007/10/10/review-developing-and-implementing-a-strategy-for-technology-deployment/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/da9ade381a3626aa7e9a8f1f9dd513d3?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">onvalue</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Meningkatkan Kualitas Piranti Lunak dengan Penerapan CMM-SW Indonesia</title>
		<link>http://onvalue.wordpress.com/2007/10/09/meningkatkan-kualitas-piranti-lunak-dengan-penerapan-cmm-sw-indonesia/</link>
		<comments>http://onvalue.wordpress.com/2007/10/09/meningkatkan-kualitas-piranti-lunak-dengan-penerapan-cmm-sw-indonesia/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 09 Oct 2007 03:47:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>onvalue</dc:creator>
				<category><![CDATA[[06] Teknik Peranti Lunak]]></category>
		<category><![CDATA[[07] Jurnal]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://onvalue.wordpress.com/2007/10/09/meningkatkan-kualitas-piranti-lunak-dengan-penerapan-cmm-sw-indonesia/</guid>
		<description><![CDATA[Kebutuhan piranti lunak semakin dibutuhkan di setiap sektor, di sisi lain memilih pengembang piranti lunak di Indonesia belum ada bakuan yang harus di sepakat, sebagai bahan pemikiran para stakeholder, sehingga jaminan kualitas piranti lunak tidak dapat terprediksi untuk mempengaruhi bisnis mereka, untuk itu para pengembang atau organisasi piranti lunak perlu memikirkan penerapan CMM-SW untuk meningkatkan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=onvalue.wordpress.com&amp;blog=1872240&amp;post=6&amp;subd=onvalue&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kebutuhan piranti lunak semakin dibutuhkan di setiap sektor, di sisi lain memilih pengembang piranti lunak di Indonesia belum ada bakuan yang harus di sepakat, sebagai bahan pemikiran para stakeholder, sehingga jaminan kualitas piranti lunak tidak dapat terprediksi untuk mempengaruhi bisnis mereka, untuk itu para pengembang atau organisasi piranti lunak perlu memikirkan penerapan CMM-SW untuk meningkatkan kualitas produksinya.  Penerapan CMM-SW lebih kepada peningkatan kualitas produksi piranti lunak bukan hanya sebuah nilai prestise, dan CMM-SW yang bersifat mentoring.</p>
<p>CMM-SW sudah dikembangkan sejak lebih dari 10 tahun yang dikeluarkan oleh SEI, untuk kultur dan budaya di Indonesia harus disesuaikan untuk itulah pemerintah perlu membuat CMM-SW Versi Indonesia, yang nantinya akan menjadi bakuan bagi pengembang piranti lunak.</p>
<p><strong>Kata kunci :</strong> Capability Maturity Model for Software (CMM-SW), piranti lunak<span id="more-6"></span><br />
<strong>Pendahuluan</strong><br />
Dalam makalah ini saya menerapkan metodologi penelitian dengan cara Literature study,Inverview dan Observasi khususnya untuk pengembang piranti lunak pada PT. ABC dan teman-teman yang bergerak pada bidang pengembangan piranti lunak. PT. ABC di dirikan 16 Desember 2003 berkedudukan di Jakarta sebagai hasil inovasi Yayasan ABC Jakarta, untuk ikut memberikan kontribusi dalam pasar Teknologi Informasi baik di dalam negeri maupun luar negeri.</p>
<p>Salah satu hal yang menjadi bahasan utama dalam makalah ini adalah penerapan CMM dalam proses pengembangan piranti lunak. Piranti lunak sudah menjadi tulang punggung dalam setiap organisasi.</p>
<p>Dalam perkembangan teknologi ada tiga hal penting yang harus diperhatikan Software (piranti lunak), Hardware , dan sumber daya manusia, ketiga hal ini disetiap organisasi harus ada. Di Indonesia SDM yang terampil tidak terdistribusi secara merata. Umumnya terfokus di pulau Jawa. Apakah memang distribusi SDM harus merata ? Di Negara maju seperti Amerika pun untuk bidang Teknologi Informasi terfokus di California, dan tidak semua daerah mengembangkan produk atau layanan untuk Teknologi Informasi yang sama.</p>
<p>Dari Ulasan diatas bukan hanya masalah SDM tetapi setiap organisasi yang konsen terhadap kebutuhan Teknologi informasi sebagai peranan strategis mulai memikirkan Kerangka Konseptual Masterplan., sebelumnya kita harus harus memahami status system informasi saat ini.</p>
<p><strong>Status Sistem Informasi</strong><br />
Kondisi dan Status Informasi yang dipergunakan akan sangat berarti bila kita mengerti potret sebenarnya, sehingga dalam pengembangan akan membantu solusi yang ingin diberikan ada beberapa kondisi yang dapat memberikan gambaran tentang status system informasi.</p>
<p>Dibangun dengan mempergunakan bahasa pemrograman dan system basis data (database) konvensional (Free Table) yang sulit beradaptasi dengan kebutuhan-kebutuhan baru, sehingga diperlukan usaha yang memakan waktu dan biaya jika terjadi perubahan kebutuhan yang perlu ditunjang oleh modul tambahan baru.</p>
<p>Menanggapi sejumlah kebutuhan baru baik yang bersifat ad-hoc maupun terencana, proses kustomisasi dilakukan dengan cara “Hard Coded” dalam arti kata membuat sejumlah modul-modul tambahan yang ditambalsulamkan pada modul utama, sehingga dapat menurunkan kualitas dan kinerja system secara keseluruhan.</p>
<p>Mekanisme proses pemasukan data masih terjadi secara sporadis dalam rangka menjaga konsistensi dan sehingga timbul kualitas data yang tidak baik.</p>
<p>Keseluruhan proses pengembangan aplikasi dan basis data yang ada tidak meninggalkan dokumen berisi desain teknis system terkait sehingga menimbulkan proses ketergantungan yang tinggi kepada pihak yang membuatnya pada saat itu.</p>
<p>Sistem yang dibangun tidak menggunakan konsep modularity sehingga membatasi keleluasan bagi stakeholder system yang ingin mengembangkan modul-modul sendiri tanpa harus khawatir modul tersebut tidak dapat terintegrasi dengan system utama.</p>
<p>Tidak tersedianya redudansi data yang baik   sehingga jika terjadi sesuatu pada data secara keseluruhan, maka system terancam berhenti.</p>
<p>Jaringan infrastruktur computer yang masih terasa lambat responsnya akibat tidak adanya manajemen bandwith yang memadai.</p>
<p>Tingkat information Technology Literacy yang masih kurang dikalangan stakeholder yang seharusnya dapat cukup banyak memanfaatkan fasilitas dan fitur yang ada.</p>
<p>Melihat kenyataaan yang ada dipastikan bahwa proses pembuatan aplikasi maupun pengembangan infrastruktur jaringan teknologi informasi tidak mengikuti standar baku pengembangan sebuah system aplikasi yang baku (System Development Life Cycle Metodologi) sehingga wajar jika kinerja system secara keseluruhan tidak begitu tinggi., karena itulah perlu dipikirkan tentang konseptual Masterplan.</p>
<p><strong>Kerangka Konseptual Masterplan</strong><br />
Secara prinsip, Masterplan sistem informasi Organisasi adalah merupakan dokumen turunan dari apa yang kerap disebut sebagai corporate business plan (rencana bisnis organisasi). Di dalam dokumen rencana bisnis korporat tersebut disebutkan secara eksplisit fungsi atau peranan strategis dari sistem informasi dalam kerangka bisnis perusahaan. Dalam beberapa referensi, Masterplan kerap didefinisikan sebagai : “sebuah dokumen formal yang berisi kerangka dasar strategi pembangunan sistem informasi Organisasi” Dokumen formal ini secara resmi disahkan oleh institusi sebagai panduan atau bahan acuan dalam berbagai usaha institusi untuk merencanakan dan mengembangkan sistem informasinya untuk jangka waktu tertentu.</p>
<p>Dengan memandang bahwa salah satu kunci keberhasilan strategi peningkatan kinerja terletak pada keberadaan sistem informasi yang handal, secara prinsip sistem informasi yang efektif diharapkan dapat membantu sejumlah stakeholder dalam melakukan hal-hal terkait dengan :<br />
1.    Mekanisme proses pengambilan keputusan yang berkualitas<br />
2.    Proses penyelenggaraan manajemen yang efisien<br />
3.    Budaya berkomunikasi, berkolaborasi, dan berkooperasi yang efektif.<br />
Disamping itu, penerapan sistem informasi yang baik dapat pula berpengaruh terhadap kualitas dan tingkat daya saing di tengah persaingan global pada industri teknologi informasi.</p>
<p>Domain Elemen dalam Masterplan Sistem Informasi adalah :</p>
<ol>
<li>Elemen Obyektif, elemen yang berkaitan dengan tujuan dibangunnya system informasi, terutama dilihat dari berbagai perspektif pengguna atau mereka yang berkepentingan.</li>
<li>Elemen Aktivitas, elemen yang berkaitan dengan ragam proses kerja sehari-hari, terutama di dalam usahanya untuk mencapai visi dan misi yang telah dicanangkan.</li>
<li>Elemen Data, elemen yang berkaitan dengan kebutuhan manajemen dan stakeholder terkait terhadap berbagai data dan informasi sebagai bahan baku dalam proses pengambilan keputusan.</li>
<li>Elemen Manusia, elemen sumber daya manusia yang dalam hal ini berfungsi sebagai pengguna dan penerima manfaat dari system informasi yang dibangun.</li>
<li>Elemen Teknologi, elemen yang berkaitan dengan berbagai jenis teknologi computer dan telekomunikasi yang perlu dimiliki dan diinstalasi.</li>
</ol>
<p><strong>Kurangnya dasar Teknologi Informasi</strong><br />
Di Indonesia kemampuan Teknologi Informasi umumnya hanya sebatas pada kulitnya saja.  Banyak SDM yang mampu mengoprek komputer tetapi tidak dapat menjelaskan secara teori, dan banyak pula programmer yang mengerti coding tetapi tidak mampu melakukan inovasi baru sebagai sebuah produk, banyak para pekerja teknologi informasi memanfaatkan Opensource untuk diterapkan di sebuah institusi tanpa tahu bagaimana business process dari aplikasi tersebut, yang seharusnya pemakaian opensource harus diimbangi dengan kontribusi untuk komunitas opensource. Dan banyak Software House (ISV) tidak mengenal CMM (Capability Maturity Model). Di Negara India hampir semua software house menerapkan CMM untuk meningkatkan kualitas produknya.</p>
<p>Di lihat dari bidang akademis, sudah bermunculan perguruan tinggi yang memiliki jurusan computer science ? Bagaimana kualitas jurusan computer science tersebut dibandingkan dengan perguruan tinggi di sekitar Indonesia ataupun luar negeri ? hal ini sulit dijawab. Memang dari sisi bahasa menjadi sebuah kendala.</p>
<p>Dari masalah tersebut diatas akan berakibat pada masalah piranti lunak yang akan dikembangkan.</p>
<p><strong>Masalah Piranti Lunak</strong><br />
Prinsip sebuah piranti lunak dkatakan good software apabila dapat secara utuh dan “sempurna” memenuhi kriteria spesifik dari organisasi atau perusahaan yang membutuhkannya. Ini yang dinamakan pemenuhan terhadap “user requirements”, ada beberapa yang dapat dijadikan criteria sebuah piranti lunak yang baik adalah :</p>
<ol>
<li>Maintainability, mudah diperbaiki dan dikembangkan</li>
<li>Dependability, reliable, secure and safe tidak terganggu oleh system failure</li>
<li>Eficiency, dalam penggunaan resource seperti memory dan processor</li>
<li>Usability, appropriate interface dan adequate documentation</li>
</ol>
<p>McCall dan teman-teman pada tahun 1977  menitikberatkan faktor-faktor tersebut menjadi tiga aspek penting, yaitu yang berhubungan dengan :</p>
<ol>
<li>Sifat-sifat operasional dari software (Product Operations);</li>
<li>Kemampuan software dalam menjalani perubahan (Product Revision)</li>
<li>Daya adaptasi atau penyesuaian software terhadap lingkungan baru (Product Transition)</li>
</ol>
<p>Yang termasuk product Operations adalah :</p>
<ol>
<li>Correctness,sejauh mana suatu software memenuhi spesifikasi dan misi dari users.</li>
<li>Reliability,sejauh mana suatu software dapat diharapkan untuk melaksanakan fungsinya dengan ketelitian yang diperlukan</li>
<li>Efficiency, banyaknya pemakian sumber daya komputasi.</li>
<li>Integrity, sejauh mana hak akses ke piranti lunak dapat dikendalikan.</li>
<li>Usability,usaha yang diperlukan untuk mempelajari, mengoperasikan, menyiapkan input, dan mengartikan output dari piranti lunak.</li>
</ol>
<p>Yang termasuk product Transition :</p>
<ol>
<li>Portability,usaha yang diperlukan untuk mentransfer piranti lunak ke dari suatu hardware dan/atau sistem piranti lunak tertentu agar dapat berfungsi pada hardware dan/atau sistem piranti lunak lainnya.</li>
<li>Reusability, sejauh mana suatu piranti lunak dapat digunakan ulang pada aplikasi lainnya</li>
<li>Interoperability, usaha yang diperlukan untuk menghubungkan satu piranti lunak dengan lainnya</li>
</ol>
<p>Yang termasuk product Revision :</p>
<ol>
<li>Maintainability,usaha yang diperlukan untuk menemukan dan memperbaiki kesalahan dalam piranti lunak.</li>
<li>Flexibility, usaha yang diperlukan untuk melakukan modifikasi terhadap piranti lunak yang operasional</li>
<li>Testability, usaha yang diperlukan untuk menguji suatu piranti lunak untuk memastikan apakah melakukan fungsi yang dikehendaki atau tidak</li>
</ol>
<p>Setelah melihat apa itu piranti lunak yang baik ada beberapa piranti lunak di katakan Software crisis bila di tandainya dengan gagalnya produk piranti lunak (kualitas buruk), over budget, dan lewat deadline penyelesaiannya. Akibatnya dari pengelolaan proses piranti lunak yang tidak baik. Dapat juga rumusan spesifikasi dan rancangan yang buruk, tidak konsistennya antara rancangan dan implementasi, dan juga tidak adanya mekanisme control kualitas. Ini adalah masalah dasar bagaimana sebuah produk piranti lunak akan mempunyai daya saing bila proses pengembangan piranti lunak dilakukan dengan tidak bener. Sebenarnya dalam persaingan global sekarang ini yang memicu daya saing bukan hanya produk piranti lunak saja, tetapi ada beberapa factor yang mempengaruhinya.</p>
<p><strong>Faktor-faktor Daya Saing</strong><br />
Dari beberapa kendala baik dan masalah pengembangan piranti lunak seperti yang dijabarkan diatas, beberapa faktor lain selain SDM, yang menentukan daya saing sebuah bisnis. Factor lain yang sangat mempengaruhi adalah Pasar, financial, teknologi, vendor, infrastruktur dan lingkungan serta kebijakan yang kondusif.  Pada gambar dibawah ini disajikan masalah seputar SDM, baik permasalahan dalam lingkup global maupun di lingkup lokal.</p>
<p><strong>Capability Matury Model</strong><br />
Organisasi Pengembang Piranti lunak, proses piranti lunak adalah utamanya, yang merupakan sekumpulan aktivitas, metode, praktek dan berbagai transformasi yang digunakan oleh sumber daya manusia di dalam organisasi untuk membangun dan memelihara piranti lunak, termasuk rencana proyek, rancangan dokumen,  coding, pengujian, dan user manual. Saat ini terdapat sebuah model untuk menentukan tingkat kematangan  proses piranti lunak yang dikenal dengan nama CMM-SW (Capability Matury Model for Software).</p>
<p>CMMS-SW, suatu metode mengevaluasi dan mengukur tingkat maturity dari proses pengembangan piranti lunak. Bila sebuah pengembangan piranti lunak menerapkan CMM-SW dalam pekerjaannya, diharapkan akan menghasilkan produk yang berkualitas yang dapat mengontrol dan mengarahkan pada proses pengembangan piranti lunak.</p>
<p>CMM-SW bila dilakukan dengan baik akan menjadi kultur internal dan meningkatkan manajemen yang baik.  CMM-SW beroritentasi kepada peningkatan proses pada setiap levelnya. Karena pembangunan dan pemeliharaan piranti lunak bergantung pada proses, semakin prosesnya baik hasilpun akan lebih berkualitas.</p>
<p>CMM-SW mempunyai 5 tingkatan matury, semua organisasi pengembang piranti lunak yang belum melakukan CMM di anggap pada level 1, karena masih tergantung pada kompetensi individu, ini yang sulit memprediksi kemajuan organisasi, yang seharusnya sebuah organisasi tergantung pada proses manajemennya.</p>
<p>software process capability of Level 1 organizations adalah tak dapat diramalkan  sebab proses perangkat lunak secara konstan diubah atau dimodifikasi pekerjaan  kemajuan ( yaitu., proses adalah untuk sementara). Jadwal, Anggaran, Kemampuan, Dan  Mutu Produk biasanya tak dapat diramalkan. Capaian tergantung pada  kemampuan individu dan bervariasi dengan ketrampilan bawaan mereka, pengetahuan,  dan motivasi. Ada sedikit perangkat lunak stabil memproses mudah terlihat, dan  capaian dapat diramalkan hanya oleh individu dibanding/bukannya kemampuan organisasi.</p>
<p>Di tingkat 2 (Repeatable Level), Kebijakan untuk memanage suatu perangkat lunak merancang dan  memeriksa prosedur untuk menerapkan kebijakan itu dibentuk/mapan. Perencanaan dan  memanage proyek baru didasarkan pada pengalaman dengan proyek serupa. Suatu  sasaran dalam mencapai Tingkatan 2 adalah untuk melembagakan manajemen efektif  proses untuk proyek piranti lunak, yang mengijinkan organisasi untuk mengulangi  praktek sukses mengembangkan pada proyek lebih awal, walaupun yang spesifik  proses yang diterapkan oleh proyek boleh berbeda. Suatu bentuk proses efektif yang memiliki ciri kas seperti dipraktekkan, didokumentasikan, dipaksa, dilatih, diukur dan kemampuan memperbaiki.</p>
<p>Di tingkat 3 (Defined Level), proses yang baku untuk mengembangkan dan memelihara  piranti lunak ke lintas organisasi didokumentasikan, mencakup piranti lunak kedua-duanya  rancang-bangun dan proses manajemen, dan proses ini terintegrasi  ke dalam suatu  utuh padu. Proses baku ini disebut seluruh  CMM proses piranti lunak sebagai standard organisasi. Proses metetapkan  pada Tingkatan 3 digunakan  untuk membantu piranti lunak dilakukan para manajer dan staff teknis melaksanakan lebih secara efektif. Organisasi  memanfaatkan praktek pengembangan piranti secara efektif ketika distandarisasikan proses pengembangan piranti lunak.  Ada sekelompok yang bertanggung jawab untuk untuk memproses aktivitas piranti lunak( e.g., SEPG). Suatu organisasi yang besar,program pelatihan  diterapkan untuk memastikan bahwa dan staff dan para manajer mempunyai pengetahuan  dan ketrampilan memerlukan untuk memenuhi peran tugasnya.</p>
<p>Di tingkat 4 (Managed Level), organisasi menetapkan sejumlah tujuan mutu kwantitatif untuk produk piranti lunak dan prosesnya. Produktivitas Dan Mutu adalah terukur untuk piranti lunak yang penting memproses aktivitas ke semua proyek  dari suatu program pengukuran organisasi. Suatu organisasi yang besar proses piranti lunak database   digunakan untuk mengumpulkan dan meneliti data yang tersedia  dari proses piranti lunak untuk menggambarkan proyek. Proses Piranti lunak adalah dilengkapi dengan alat pengukuran konsisten dan dirumuskan dengan baik pada Tingkatan 4.  Pengukuran ini menetapkan dasar kwantitatif untuk mengevaluasi  produk dan proses piranti lunak proyek.</p>
<p>Di tingkat 5 (Optimizing Level), keseluruhan organisasi difokuskan pada berkelanjutan  peningkatan proses. Organisasi mempunyai maksud  untuk mengidentifikasi  kelemahan dan memperkuat proses secara proaktif, dengan tujuan mencegah kejadian cacat. Data pada efektivitas  proses piranti lunak digunakan untuk melaksanakan analisa manfaat dan biaya tentang  teknologi baru  dan mengusulkan perubahan kepada proses piranti lunak organisasi. Inovasi  itu memanfaatkan piranti lunak yang terbaik praktek rancang-bangun dikenali dan  yang ditransfer seluruh organisasi.</p>
<p>Untuk setiap key-proses area CMM-SW dapat  dilihat pada table dibawah ini yang saya lakukan pada PT. ABC untuk menentukan kematangan dalam proses pengembangan piranti lunak yang selama ini dikembangkan dari tahun 2003 sampai dengan sekarang yang menangani 5 Modul inti dibawah naungan Yayasan XYS Jakarta..</p>
<p><strong>Maturity Levels    Focus    Key Process Areas</strong></p>
<p><strong>Level 1: Initial  (  People  &amp; Competent people)</strong></p>
<p><strong>Level 2: Repeatable Project management processes    </strong></p>
<ol>
<li>Software configuration management</li>
<li>Software quality assurance</li>
<li>Subcontract management</li>
<li>Project tracking and oversight</li>
<li>Project planning</li>
<li>Requirements management</li>
</ol>
<p><strong>Level 3: Defined Engineering processes and organizational support</strong></p>
<ol>
<li>Peer reviews</li>
<li>Intergroup coordination</li>
<li>Software product engineering</li>
<li>Integrated software management</li>
<li>Training program</li>
<li>Organization process definition</li>
<li>Organization process focus</li>
</ol>
<p><strong>Level 4: Quantitatively   Managed Product and process quality</strong></p>
<ol>
<li>Software quality management</li>
<li>Quantitative process management</li>
</ol>
<p><strong>Level 5: Optimizing Continuous process improvement    </strong></p>
<ol>
<li>Defect prevention</li>
<li>Technology change management</li>
<li>Process change management</li>
</ol>
<p>Interview yang saya lakukan pada sumber daya internal PT. ABC, kenapa saya pilih interview karena banyak organisasi pengembang piranti lunak belum memahami CMM, sehingga bila dilakukan kuisenair akan mendapatkan data yang tidak valid (ini saya lakukan dan saya batalkan).</p>
<p>Dari hasil Observasi dan Interview, PT. ABC telah melakukan banyak perubahan, sejak berdiri pada tahun 2003 sampai sekarang, dan tingkat maturity secara alami meningkat dengan bertambahnya pengalaman proses pengembangan piranti lunak, bila kita terapkan CMM-SW beberapa kegiatan yang seharusnya di level CMM yang lebih tinggi sudah dilakukan misalkan Training Program dan melakukan Peer review.</p>
<p>Selama tahun 2003, Proyek yang di tangani menggunakan Platform .NET Technologies dan salah satu organisasi pengembang piranti lunak yang melakukan overall system Project dengan Platform .NET</p>
<p>Pengembang piranti lunak belum memahami pentingnya CMM-SW bahkan pada saat Inverview masih rancu antara CISA (Certifcate Information System Audit) dan CMM-SW, CMM-SW adalah bersifat mentoring, yang memberikan arahan tentang pengembangan piranti lunak yang baik. Sayangnya untuk Indonesia belum mempunyai lead Assesor dan yang terdekat dengan Indonesia adalah Thailand.</p>
<p>Dari pendapat sumber daya internal PT. ABC CMM-SW menarik dan merupakan pilihan untuk memperbaiki kualitas produknya dalam proses pengembangkan piranti lunak.</p>
<p>Organisasi pengembang piranti sangat tertarik bila pemerintah membuat regulasi untuk pengembangan piranti lunak semacam CMM-SW versi Indonesia dan mensosialisasikan kepada para pengembang piranti lunak, untuk menjadi pedoman. Sehingga akan mendapatkan kualitas produk yang baik dan target untuk meningkatkan daya saing di pasar lokal maupun global.</p>
<p><strong>CMM-SW  level 2 (Repeatable)       </strong></p>
<p>Level 2 ini berfokus pada Project management processes, dan beberapa Resource PT. ABC telah mengikuti pelatihan Project Management. Adapun lingkup dalam Level ini   adalah :</p>
<ol>
<li>Software configuration management, masalah yang ada di SCM adalah Double Maintenance dan Shared Data Problem, sehingga evolusi dari program yang berjalan dapat dikontrol dengan baik. Tata nama produk  piranti lunak seperti System,Subsystem, Product, Components, dan modul telah dilakuan termasuk membuat Baseline dan  Driver sehingga akan mempermudah wadah resmi dan berisi versi paling terakhir, baik dengan menggunakan Tools (misal : SourceSafe) ataupun wadah yang dibuat sendiri. Dan juga merencanakan aktivitas manajemen tentang proses piranti lunak, dikendalikan, dan memberikan pengarahan kepada sumber daya internal untuk konfigurasi piranti lunak.</li>
<li>Software quality assurance, menjamin bahwa tugas pengembangan piranti lunak dilakukan sebagaimana mestinya, di PT. ABC ini mempunyai SQA tersendiri yang tidak harus ahli dalam perancangan piranti lunak tapi tahu proses piranti lunak. Tujuannya adalah untuk memperbaiki kualitas piranti lunak dengan me-monitor proses pengemban piranti lunak menjadi sebuah produk termasuk kesesuaian dengan standard dan procedure untuk proses piranti lunak.</li>
<li>Subcontract management, menetapkan vendor antara yang primer ke subkontrak untuk menjaga kualitas,jadwal,komitmen sehingga terbentuk komunikasi yang baik, belum sepenuhnya dilakukan..</li>
<li>Project tracking and oversight, mencatat kegiatan dan tingkat penyimpangan dan penyelesaiannya, dan perubahan modul selalu di setujui oleh user atau kelompok yang dijembatani oleh Counter part dari sisi klien, tidak semua didokumentasikan dan ini yang perlu diperbaiki.</li>
<li>Project planning, dilakukan Project Manager yang berupa system proposal ke pada klien tentang kebutuhan dasar pengembang system dalam sebuah project. Dalam pelaksanaan proyek akan dijabarkan lebih detail sehingga nantinya aktivitas dari proyek tersebut dapat dikontrol.</li>
<li>Requirements management, masalah yang paling kritis dalam pengembangan piranti lunak adalah perbedaan sudut padang dalam hal ini yaitu dari sudut pandang pengguna Requirements adalah kebutuhan pengguna yang harus dipenuhi sedangkan dari sudut pandang pengembang apa yang harus diimplementasikan pada system, atau merupakan batasan pengembangan system. Sehingga kebutuhan harus dinyatakan dalam bentuk suatu dokumen secara lengkap atas kesepakatan bersama antara pengembang dan pengguna. Dalam hal ini dalam proyek Amadeus yang dilakukan oleh PT. ABC sedikit mengalami hambatan dikarena sudut pandang yang berbeda, dan juga dipengaruhi dari sisi klien tentang policy yang harus dinyatakan secara tegas.</li>
</ol>
<p>Pada tingkat Level CMM-SW yang lebih tinggi juga sedikit telah melakukannya seperti training program, PT. ABC meng-upgrade sumber dayanya dengan peningkatan keahlian dalam hal Teknis maupun manajerial seperti : Training SAP, C#, Manajemen Proyek, dan lain-lain, juga melakukan peer review terhadap coding yang dilakukan oleh individu dan dikoreksi oleh tim kecil untuk me-review hasil coding tersebut, karena dalam CMM-SW adalah sifatnya mentoring dan dalam setiap level seluruh key proses area harus dipenuhi. PT. ABC mendekati level 2 dan belum layak  menyadang Level 2, Level 2 ini akan dicapai bila seluruh  key proses area selalu diperbaiki (Informasi ini saya berikan karena sebenarnya seluruh key process area belum dilakukan dengan benar,dikarenakan CMM tidak memakai Point yang seharusnya Level 1.X).</p>
<p><strong>Strategi Pengenalan CMM-SW di Indonesia</strong><br />
Dari hasil observasi dan interview, banyak sekali pengembang piranti lunak yang belum mengenal CMM-SW,  pengkajian CMM-SW dalam kontek versi Indonesia  sehingga akan sesuai dengan kultur dan budaya kita, dan Sosialisasi yang pada akhirnya sebagai bakuan untuk menilai kompetensi pengembang piranti lunak.sebagai factor kompetisi.</p>
<p>Standarisasi Kompetensi SDM Teknologi Informasi juga mempengaruhi dan sangat dibutuhkan,  yang setiap berkala direvisi oleh penanggung jawab  seperti IPKIN, Asosiasi-asosisi yang terkait dengan bidang TIE (Teknologi Informasi dan Elektronika seperti APJII, ASPILUKI), perguruan tinggi, training center, Deperindag, vendor di bidang TIE), sehingga perlu adanya Pendidikan dan Pelatihan pengembangan piranti lunak dengan pendekatan pada CMM-SW dapat dengan cara :</p>
<ol>
<li>Distance Learning,  pola ini dapat membantu para pengembang piranti lunak untuk mendapat teori dan praktek yang benar dengan menerapan CMM dengan cara pendidikan jarak jauh tanpa meninggalkan proyek yang sedang dikerjakan.</li>
<li>Continuing Education, Pola pendidikan ini dapat digunakan untuk pekerja dalam rangka meningkatkan kemampuannya misalnya dapat mengambil pelatihan pada sore atau malam hari.</li>
<li>Community College System, Di Taiwan system ini dikembangkan dimana pendidikan level Tinggi diberikan tanpa prasyarat latar belakang ijasah SMU atau yang setara.</li>
</ol>
<p>Selain ilmu yang berfokus pada keahlian perlu dilakukan investasi dalam pendidikan bisnis, banyak sekali para calon entrepreneur memiliki keahlian teknis yang memadai tetapi tidak dibekali dengan bisnis sehingga ini akan menjadi kendala. Industri Teknologi Informasi di Indonesia banyak dipelopori oleh Usaha kecil menengah, untuk itu perlu dipupuk jiwa entrepreneurship. Bila ini dilakukan penerapan CMM-SW untuk para pengembang piranti lunak diindonesia semakin bertambah karena mendapatkan maanfaat akan proses pengembangan piranti lunak yang baik. Analoginya adalah mengajarkan teori pemrograman harus ada laboratorium untuk mencoba dan melatih teori-teori yang diberikan, tidak ada belajar program dengan menggunakan teori, kemudian langsung terjun ke dalam pengembangan piranti lunak dengan membuat aplikasi komerisial. Untuk bidang enterpreneourship apakah ada laboratorium yang dapat digunakan ? tanpa implementasi ini sangat riskan dan dapat menimbulkan banyak kegagalan. Untuk itu perlu adanya incubator atau laboratorium untuk praktek entrepreneurship.</p>
<p><strong>Penelitian dan Pengembangan</strong><br />
Industri Teknologi Informasi di beberapa Negara maju selalu melakukan penelitian dan Pengembangan ( (research and development), karena aspek yang ingin didapatkan bukan hanya aspek perdagangan tetapi  lebih dari itu  dalam bentuk Intellectual Property (HaKI) yang dapat dinikmati dalam bentuk royalty.</p>
<p>Bagi Negara, ini adalah salah satu strategis promosi  yang dapat digunakan. Apalagi saat ini situasi ekonomi Indonesia yang terpuruk, sehingga kurang menarik bagi investor asing.</p>
<p>Pemerintah perlu membuat regulasi  dan terus mengkaji CMM-SW versi Indonesia sebagai suatu syarat pengembang piranti lunak yang akan mendapatkan proyek atau tender harus memiliki Sertifikasi CMM-SW sehingga dari sisi pengguna / stakeholder akan merasakan dan dapat memprediksi hasil piranti lunak yang dikembangkan, yang akhirnyanya akan mempengaruhi bisnisnya.</p>
<p><strong>Piranti Lunak akan datang</strong><br />
Tantangan sekarang dan akan datang adalah tantangan pemenuhan kualitas. Karena itu CMM-SW pada pengembangan piranti lunak di Indonesia harus menjadi suatu keharusan. Hanya pengembang piranti lunak yang dapat memberikan kualitas dan pelayanan dari piranti lunak yang dikembangkan dengan baiklah yang dapat bersaing dan hidup dalam kompentisi yang lebih ketat.</p>
<p>Sekali pengembangn piranti lunak gagal, memberikan layanan dari pengembangan piranti lunaknya, akan susah menjaga eksistensi dan kepercayaan klien terhadapnya. Ini akan berakibatnya peluang untuk mendapatkan proyek semakin sempit.</p>
<p><strong>Kesimpulan</strong><br />
Perlu disosialisakan dan pengkajian CMM-SW dalam kontek versi Indonesia yang nantinya menjadi bakuan bagi semua pengembang piranti lunak di Indonesia sehingga CMM-SW semakin diminati dan menjadi acuan dalam pengembangan piranti lunak dan juga untuk meningkatkan kualitas piranti lunak.</p>
<p><strong>Daftar Pustaka</strong></p>
<ol>
<li>The Software Engineering Institute-Carnegia Mellon University Technical Report (http://www.sei.cmu.edu &amp; ftp://ftp.sei.cmu.edu)</li>
<li>Jurnal Rencana Induk pengembangan Industri Teknologi Informasi dan Elektronika (Aspek Sumber Daya Manusia) oleh Budi Rahardjo [Pusat Peneiltian antar Universitas Bidang Mikroelektronika Institute Teknologi Bandung, 2001</li>
<li>Pressman, Software Engineering : A Practitioner’s Approach, McGraw-Hill,6 th Edition</li>
<li>Eko K. Budiardjo ,Bahan Kuliah dan Slide untuk Rekayasa Perangkat Lunak</li>
</ol>
<p><strong>Kerahasiaan :</strong> <em>Nama Perusahaan dan Yayasan disamarkan.<br />
</em></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/onvalue.wordpress.com/6/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/onvalue.wordpress.com/6/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/onvalue.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/onvalue.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/onvalue.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/onvalue.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/onvalue.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/onvalue.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/onvalue.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/onvalue.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/onvalue.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/onvalue.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/onvalue.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/onvalue.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/onvalue.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/onvalue.wordpress.com/6/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=onvalue.wordpress.com&amp;blog=1872240&amp;post=6&amp;subd=onvalue&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://onvalue.wordpress.com/2007/10/09/meningkatkan-kualitas-piranti-lunak-dengan-penerapan-cmm-sw-indonesia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/da9ade381a3626aa7e9a8f1f9dd513d3?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">onvalue</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>IT doesn’t matter</title>
		<link>http://onvalue.wordpress.com/2007/10/09/it-doesn%e2%80%99t-matter/</link>
		<comments>http://onvalue.wordpress.com/2007/10/09/it-doesn%e2%80%99t-matter/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 09 Oct 2007 02:49:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>onvalue</dc:creator>
				<category><![CDATA[[01] Koorporate]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://onvalue.wordpress.com/2007/10/09/it-doesn%e2%80%99t-matter/</guid>
		<description><![CDATA[Artikel “IT Doesn’t Matter” yang ditulis oleh Nicholas G. Carr, cukup menarik untuk disimak. Nicholas G. Carr mengawali tulisannya dengan sebuah ilustrasi perkembangan teknologi, dari steam engine dan rel kereta api kepada telegraf dan telepon, lalu menuju kepada generator listrik dan internal combustion engine. Dalam perkembangannya yang cukup singkat, teknologi-teknologi tersebut menjadi bagian dari infrastruktur [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=onvalue.wordpress.com&amp;blog=1872240&amp;post=5&amp;subd=onvalue&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Artikel “IT Doesn’t Matter” yang ditulis oleh Nicholas G. Carr, cukup menarik untuk disimak. Nicholas G. Carr mengawali tulisannya dengan sebuah ilustrasi perkembangan teknologi, dari steam engine dan rel kereta api kepada telegraf dan telepon, lalu menuju kepada generator listrik dan internal combustion engine. Dalam perkembangannya yang cukup singkat, teknologi-teknologi tersebut menjadi bagian dari infrastruktur komersial atau bisnis. Dari situ, Nicholas G. Carr melanjutkan bahwa dari sebuah prinsip strategis, mereka menjadi tidak terlihat, seakan-akan teknologi tersebut bukan sesuatu yang penting. Itulah yang dijadikan ilustrasi oleh Nicholas G. Carr sebagai analogi terhadap IT.<br />
<strong>Kata kunci :</strong><em>IT doesn’t matter</em><br />
<span id="more-5"></span></p>
<p><strong>Pendapat IT doesn’t Matter menurut Nicholas G. Carr</strong><br />
Hal yang mendorong anggapan &#8211; angapan pragmatic tentang IT pada berbagai kalangan yang bermula atas pedapat Nicholas G. Carr terhadap IT :</p>
<ol>
<li>Adanya pemujaan terhadap IT yang terlalu berlebihan pada sebagian kalangan dan anggapan bahwa IT itu hanyalah perkakas/alat pendukung mencapai keberhasilan bisnis pada sebagian kalangan lainnya.</li>
<li>Adanya pemujaan terhadap IT ditandai dengan  banyaknya eksekutif terobesesi akan perkembangan IT yang tak terbatas, sedangkan sebagian lainnya berpendapat bahwa  IT bersifat infrastruktur terbuka sehingga berpotensi menjadi komersil dan mudah diikuti dan ditiru, juga  IT memerlukan ketersediaan data yang cukup agar dapat diproses, ada biaya ongkos penyimpanan data dan tranmisi dengan kata lain penerapan TI adalah membutuhkan effort uang besar dan tidak dapat langsung siap guna.</li>
<li>Dengan anggapan bahwa IT adalah hanyalah perkakas/alat pendukung mencapai keberhasilan bisnis, maka sebagian orang akan menganalogikan perkembangan IT seperti perkembangan teknologi mesin uap dan rel KA, telegraph/telepon, mesin/listrik.  Yang mana semuanya itu sudah merupakan yang biasa saat ini dan sudah menjadi komoditas umum/Kebutuhan biasa. Demikian juga dengan IT sudah menjadi lumrah dan umum  sehingga seolah-olah perannya menjadi tidak kelihatan, tidak berarti. IT akan nampak jauh ketika masih baru / asing bagi sebagian orang sehingga dapat menyajikan sebuah fenomena peluang untuk kompetisi setelah itu akan menjadi hal umum dan biasa, persis sama dengan perkembangan teknologi lainnya.</li>
<li>Beberapa contoh dari perkembangan bisnis dengan penerapan IT</li>
</ol>
<blockquote>
<ul>
<li>Tahun 1976 ketika RS.amerika menerapkan sistem AHS, sistem distributor persediaan medis, yaitu Memesan barang secara online sehingga akibat investasi berkurang maka perusahaan lebih efisien. AHS ini merupakan penghalang bagi pesaing. Margin keuntungan  13% dan 18% diatas rata-rata dalam industri ditahun 1978 dan 1989.</li>
<li>Airline dengan sistem reservasinya.</li>
<li>Mobil oil dengan sistem pembayaran speedpass.</li>
<li>Kantor berita router dengan jaringan informasi keuangan.</li>
<li>eBay dengan internet lelang.</li>
<li>Leapfrog dengan inovasi pada produk mainan</li>
</ul>
</blockquote>
<ol>
<li>IT cepat berkembang dan cepat usang. TI deflasi harga sangat cepat.  Perkembangan IT dan perangkat elektronik sangat cepat (Gordon Moore) mengganda tiap dua tahun. Yang dapat dicontohkan sebagai berikut :</li>
</ol>
<blockquote>
<ul>
<li>Perkembangan rel KA antara tahun 1846 dan 1876 dari 17424 km jadi 309641 km.</li>
<li>Kapasitas Kapal uap dari 139973 sampai 3293072 ton.</li>
<li>Jalur Telegraph 2000 miles tahun 1949 dan ditahun 1969 menjadi 110000 miles.</li>
<li>Stasiun sentral listrik 468 tahun 1889 dan pada tahun 1917 ada 4364 dengan kapasitas 10 X lipat.</li>
<li>Internet tahun 1989 80000 menjadi 125 juta tahun 2001.</li>
</ul>
</blockquote>
<ol>
<li>TI sangat replicable, dapat diproduksi nyaris tanpa biaya. Sehingga perusahaan yang membeli aplikasi yang umum, mereka membeli suatu proses yang umum juga.</li>
<li>Banyak perusahaan invest di IT terlalu banyak/mahal tapi manfaat yang didapatkan sangat kecil.</li>
<li>Sekarang yang terpenting adalah bagaimana membedakan satu perusahaan dengan yang lainnya. Memperoleh keuntungan IT jelas berkurang, yang terbaik sekarang dengan perangkat lunak. Memciptakan keunggulan bersaing. Kunci sukses tidak lagi dengan mencari keuntungan yang agresif tapi dengan  mengatur biaya-biaya dan resiko dengan teliti.</li>
</ol>
<p><strong>Dasar Teori</strong><br />
Komputer adalah alat yang dipakai untuk mengolah informasi menurut prosedur yang telah dirumuskan. Kata computer semula dipergunakan untuk menggambarkan orang yang perkerjaannya melakukan perhitungan aritmatika, dengan atau tanpa alat bantu, tetapi arti kata ini kemudian dipindahkan kepada mesin itu sendiri. Asal mulanya, pengolahan informasi hampir eksklusif berhubungan dengan masalah aritmatika, tetapi komputer modern dipakai untuk banyak tugas yang tidak berhubungan dengan matematika.<br />
Dalam komputer terdiri dari perangkat keras dan perangkat lunak, Perangkat lunak atau piranti lunak adalah program komputer yang berfungsi sebagai sarana interaksi antara pengguna dan perangkat keras. Perangkat lunak dapat juga dikatakan sebagai &#8216;penterjemah&#8217; perintah-perintah yang dijalankan pengguna komputer untuk diteruskan ke atau diproses oleh perangkat keras. Perangkat lunak ini dibagi menjadi 3 tingkatan: tingkatan program aplikasi (application program misalnya Microsoft Office), tingkatan sistem operasi (operating system misalnya Microsoft Windows), dan tingkatan bahasa pemrograman (yang dibagi lagi atas bahasa pemrograman tingkat tinggi seperti Pascal dan bahasa pemrograman tingkat rendah yaitu bahasa rakitan).</p>
<p>Perangkat keras komputer (hardware) adalah semua bagian fisik komputer, dan dibedakan dengan data yang berada di dalamnya atau yang beroperasi di dalamnya, dan dibedakan dengan perangkat lunak (software) yang menyediakan instruksi untuk perangkat keras dalam menyelesaikan tugasnya.</p>
<p>Komunikasi adalah suatu proses penyampaian pesan (ide, gagasan) dari satu pihak kepada pihak lain agar terjadi saling mempengaruhi diantara keduanya. Pada umumnya, komunikasi dilakukan dengan menggunakan kata-kata (lisan) yang dapat dimengerti oleh kedua belah pihak. Apabila tidak ada bahasa verbal yang dapat dimengerti oleh keduanya, komunikasi masih dapat dilakukan dengan menggunakan gerak-gerik badan, menunjukkan sikap tertentu, misalnya tersenyum, menggelengkan kepala, mengangkat bahu. Cara seperti ini disebut komunikasi dengan bahasa nonverbal atau bahasa isyarat.<br />
Teknologi atau pertukangan memiliki lebih dari satu definisi. Salah satunya adalah pengembangan dan aplikasi dari alat, mesin, material dan proses yang menolong manusia menyelesaikan masalahnya. Sebagai aktivitas manusia, teknologi mulai sebelum sains dan teknik.<br />
Informasi adalah hasil pemrosesan, manipulasi dan pengorganisasian/penataan dari sekelompok data yang mempunyai nilai pengetahuan (knowledge) bagi penggunanya. Namun demikian istilah ini memiliki banyak arti bergantung pada konteksnya, dan secara umum berhubungan erat dengan konsep seperti arti, pengetahuan, negentropy, komunikasi, kebenaran, representasi, dan rangsangan mental. Banyak orang meggunakan istilah &#8220;era informasi&#8221;, &#8220;masyarakat informasi,&#8221; dan teknologi informasi, dalam bidang ilmu informasi dan ilmu komputer yang sering disorot, namun kata &#8220;informasi&#8221; sering dipakai tanpa pertimbangan yang cermat mengenai berbagai arti yang dimilikinya.<br />
Teknologi Informasi dilihat dari kata penyusunnya adalah teknologi dan informasi. Secara mudahnya teknologi informasi adalah hasil rekayasa manusia terhadap proses penyampaian informasi dari bagian pengirim ke penerima sehingga pengiriman informasi tersebut akan:</p>
<ul>
<li> lebih cepat</li>
<li>lebih luas sebarannya, dan</li>
<li>lebih lama penyimpanannya.</li>
</ul>
<p>Agar lebih mudah memahaminya mari kita lihat perkembangan di bidang teknologi informasi. Pada awal sejarah, manusia bertukar informasi melalui bahasa. Maka bahasa adalah teknologi. Bahasa memungkinkan seseorang memahami informasi yang disampaikan oleh orang lain.</p>
<p>Tetapi bahasa yang disampaikan dari mulut ke mulut hanya bertahan sebentar saja, yaitu hanya pada saat si pengirim menyampaikan informasi melalui ucapannya itu saja. Setelah ucapan itu selesai, maka informasi yang berada di tangan si penerima itu akan dilupakan dan tidak bisa disimpan lama. Selain itu jangkauan suara juga terbatas. Untuk jarak tertentu, meskipun masih terdengar, informasi yang disampaikan lewat bahasa suara akan terdegradasi bahkan hilang sama sekali.</p>
<p>Sistem informasi adalah aplikasi komputer untuk mendukung operasi dari suatu organisasi: operasi, instalasi, dan perawatan komputer, perangkat lunak, dan data. Sistem Informasi Manajemen adalah kunci dari bidang yang menekankan finansial dan personal manajemen. Sistem Informasi Penjualan adalah suatu sistem informasi yang mengorganisasikan serangkaian prosedur dan metode yang dirancang untuk menghasilkan, menganalisa, menyebarkan dan memperoleh informasi guna mendukung pengambilan keputusan mengenai penjualan.</p>
<p>Sistem Informasi Manajemen merupakan sistem informasi yang menghasilkan hasil keluaran (output) dengan menggunakan masukan (input) dan berbagai proses yang diperlukan untuk memenuhi tujuan tertentu dalam suatu kegiatan manajemen.<br />
Manajemen adalah sebuah proses perencanaan, pengorganisasian, pengkoordinasian, dan pengontrolan sumber daya untuk mencapai sasaran (goals) secara efektif dan efesien. Efektif berarti bahwa tujuan dapat dicapai sesuai dengan perencanaan, sementara efisien berarti bahwa tugas yang ada dilaksanakan secara benar, terorganisir, dan sesuai dengan jadwal; dalam berbagai bidang seperti industri, pendidikan, kesehatan, bisnis, finansial dan sebagainya. Dengan kata lain efektif menyangkut tujuan dan efisien menyangkut cara dan lamanya suatu proses mencapai tujuan tersebut. Kata manajemen berasal dari bahasa Prancis kuna ménagement, yang memiliki arti seni melaksanakan dan mengatur.</p>
<p><strong>Timbulnya Isu tentang IT doesn’t Matter</strong><br />
IT bukanlah hal yang utama, Pendapat bahwa IT tidaklah hal yang utama karena IT dinilai hanya bisa dianggap penting pada saat permulaan digunakan tetapi setelah digunakan menjadi bagian dari infrastruktur yang komersial atau dibisniskan.  Hal diatas muncul bermula atas pendapat Nicholash Carr yang mengilustrasikan perkembangan teknologi seperti perkembangan teknologi informasi dari steam engine dan rel kereta api kepada telegraf dan telepon, lalu menuju kepada generator listrik dan internal combustion engine. Dalam perkembangannya yang cukup singkat, teknologi-teknologi tersebut menjadi bagian dari infrastruktur komersial atau bisnis. Dari situ, Nicholas G. Carr melanjutkan bahwa dari sebuah prinsip strategis, mereka menjadi invisible (tidak terlihat), seakan-akan teknologi tersebut bukan sesuatu yang penting. Itulah yang dijadikan ilustrasi oleh Nicholas G. Carr sebagai analogi terhadap IT hari ini.</p>
<p>Di bagian lain IT sebagai alat bantu, Nicholas menyebutkan bahwa kunci sukses untuk kebanyakan perusahaan adalah bukan lagi mencoba mencari keuntungan dengan agresif, namun bagaimana agar perusahaan tersebut bisa mengatur pengeluaran dan resiko dengan cermat dan teliti. Lalu dilanjutkan oleh Nicholas, seperti kebanyakan eksekutif, jika Anda mulai untuk mengambil sikap bertahan lebih besar terhadap IT dalam dua tahun terakhir, lebih banyak mengambil sikap kesederhanaan dan berpikir lebih pragmatis, Anda sudah di jalan yang benar. Tantangannya adalah untuk tetap mempertahankan sikap tersebut ketika perputaran bisnis semakin ketat, serta perpaduan dari nilai strategi IT yang berlebihan akan tumbuh sekali lagi.</p>
<p><strong>Kritik isu tentang IT doesn’t Matter</strong></p>
<p>Pandangan IT bukan hal yang utama Pendapat Nicholas tersebut memang menarik. Pendapatnya adalah benar jika di tilik melalui  sudut pandang tersebut, namun ada akan berbeda jika dilihat dari sudut pandang yang lainnya. Hatl itu dikarenakan  IT adalah berbeda dengan teknologi-teknologi yang disebutkan oleh Nicholas tersebut. IT merupakan sebuah proses revolusi perkakas, di mana di dalamnya terjadi konvergensi dari beberapa teknologi terpisah, misalnya komputer, bahasa pemrograman, teknologi mikrochip, telekomunikasi, mobile phone, dan sebagainya. Dan prosesnya sampai hari ini masih terus berlangsung, belum mencapai titik kejumudan.</p>
<p>Sedangkan teknologi lainnya yang disebutkan oleh Nicholas, misalnya steam engine dan rel kereta api, merupakan dua buah entitas tersendiri dalam teknologi di bidang transportasi, bukan merupakan sebuah raksasa teknologi yang merupakan gabungan dari beberapa teknologi. Sehingga sampai hari ini, IT adalah sesuatu yang masih penting dan belumberhenti berkembang. Sebuah bisnis masih harus memantau perkembangan IT, karena proses perkembangannya masih berlansung.</p>
<p>IT sebagai alat bantu, Jika dilihat dari sudut pandang ini tidak diragukan lagi kalau dikatakan bahwa IT doesn’t matter. Karena sejatinya, IT memang hanya alat atau perkakas, yang dengan IT tersebut akan melancarkan transfer informasi digital dalam sistem informasi, sehingga akan memudahkan perputaran bisnis. Dan menurut kami, yang lebih penting itu sebenarnya adalah sistem informasi itu sendiri. Sedangkan IT menyesuaikan diri dengan kebutuhan yang sudah ditetapkan dalam sistem informasi.</p>
<p><strong>Kesimpulan :</strong></p>
<p>Jadi kesimpulannya, apakah IT itu “matter” atau tidak, tergantung dari sudut pandang mana. Kalau dari sudut pandang teknologi dan perkembangan informasi, maka IT adalah sesuatu penting. Tapi kalau dari sudut pandang bisnis yang telah memiliki informasi yang cukup dan berlimpah, maka IT memang seolah-olah tidak penting walupun perannya tidaklah dapat disangkal.</p>
<p><strong>Referensi :</strong><br />
1)    Nicholas G. Carr, IT doesn’t matter, Harvard Business Review.</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/onvalue.wordpress.com/5/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/onvalue.wordpress.com/5/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/onvalue.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/onvalue.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/onvalue.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/onvalue.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/onvalue.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/onvalue.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/onvalue.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/onvalue.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/onvalue.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/onvalue.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/onvalue.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/onvalue.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/onvalue.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/onvalue.wordpress.com/5/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=onvalue.wordpress.com&amp;blog=1872240&amp;post=5&amp;subd=onvalue&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://onvalue.wordpress.com/2007/10/09/it-doesn%e2%80%99t-matter/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/da9ade381a3626aa7e9a8f1f9dd513d3?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">onvalue</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Sejarah Timbulnya Corporate Governance</title>
		<link>http://onvalue.wordpress.com/2007/10/09/sejarah-timbulnya-corporate-governance/</link>
		<comments>http://onvalue.wordpress.com/2007/10/09/sejarah-timbulnya-corporate-governance/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 09 Oct 2007 02:33:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>onvalue</dc:creator>
				<category><![CDATA[[01] Koorporate]]></category>
		<category><![CDATA[[02] Manajemen]]></category>
		<category><![CDATA[[03] Basis Data]]></category>
		<category><![CDATA[[04] Jaringan]]></category>
		<category><![CDATA[[05] Pemrograman]]></category>
		<category><![CDATA[[06] Teknik Peranti Lunak]]></category>
		<category><![CDATA[[07] Jurnal]]></category>
		<category><![CDATA[[08] Tata Kelola TI]]></category>
		<category><![CDATA[[99] Lain-lain]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://onvalue.wordpress.com/2007/10/09/sejarah-timbulnya-corporate-governance/</guid>
		<description><![CDATA[Corporate Governance dapat diterjemahkan dalam bahasa Indonesia dengan ‘pengendalian perusahaan’ atau ‘tata-kelola perusahaan’, atau ada juga yang menterjemahkan dengan ‘tata-pamong perusahaan’. Namun karena padanan bahasa Indonesia ini belum cukup baku, maka dalam tulisan ini sengaja digunakan istilah aslinya saja, yaitu Corporate Governance. Tata-kelola atau governance memang lain dengan pengelolaan atau manajemen sebagaimana nanti dapat dilihat [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=onvalue.wordpress.com&amp;blog=1872240&amp;post=3&amp;subd=onvalue&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Corporate Governance  dapat diterjemahkan dalam bahasa Indonesia dengan ‘pengendalian perusahaan’ atau ‘tata-kelola perusahaan’, atau ada juga yang menterjemahkan dengan ‘tata-pamong perusahaan’. Namun karena padanan bahasa Indonesia ini belum cukup baku, maka dalam tulisan ini sengaja digunakan istilah aslinya saja, yaitu Corporate Governance.</p>
<p><span id="more-3"></span></p>
<p>Tata-kelola atau governance memang lain dengan pengelolaan atau manajemen sebagaimana nanti dapat dilihat dari rumusan pengertian atau definisinya. Semua perusahaan membutuhkan suatu kerangka-kerja tata-kelola yang meliputi misi yang akan dicapai dan aturan-aturan serta konvensi yang jelas untuk pedoman pencapaian misi tersebut.</p>
<p><strong>Pemicu Timbulnya Corporate Governance.</strong><br />
Timbulnya berbagai skandal besar yang menimpa perusahaan-perusahaan baik di Inggris maupun Amerika Serikat pada tahun 1980an berupa berkembangnya budaya serakah dan pengambilalihan perusahaan secara agresif lebih menyadarkan orang akan perlunya sistem  tata-kelola ini. Bagaimanapun juga dalam suatu perusahaan selalu saja terjadi pertarungan antara kebebasan pribadi dan tanggung jawab kolektif, dan inilah sentral dari pengaturan yang menjadi obyek corporate governance. Suatu lembaga itu tidak mempunyai jiwa, sedangkan yang mempunyai adalah orang-orang yang bekerja di dalamnya, yang dipengaruhi oleh interaksi dalam mengejar kepentingan pribadi dan kepentingan bersama.</p>
<p>Selalu ada potensi konflik antara pemilik saham dan pimpinan perusahaan, antara pemilik saham majoritas dan minoritas, antara pekerja dan pimpinan perusahaan, ada potensi mengenai pelanggaran lindungan lingkungan, potensi kerawanan dalam hubungan antara perusahaan dan masyarakat setempat, antara perusahaan dan pelanggan ataupun pemasok, dan sebagainya. Bahkan besarnya gaji para eksekutif dapat merupakan bahan kritikan.</p>
<p>Pada tahun 1992 misalnya masyarakat industri otomotif Jepang mengkritik industri otomotif  Amerika Serikat yang memberikan gaji terlalu tinggi pada para eksekutifnya. Bahkan ketika resesi pada tahun 1989, gaji mereka terus meningkat sebesar rata-rata 6,7% sedangkan nilai pemegang saham pada waktu yang sama merosot sebesar 9%. Untuk itu diperlukan suatu tata-kelola perusahaan yang jelas dan bertanggung jawab.</p>
<p>Tadinya faham corporate governance hanya berkembang di negara-negara berbahasa Inggris seperti Inggris dan Amerika, tetapi segera pula berkembang di negara-negara lain.<br />
Dalam corporate governance selalu ada dua hal yang perlu diperhatikan. Apakah aturan atau sistem tata-kelola sudah ada secara jelas, lengkap, dan tertulis ? Apakah aturan dan sistem yang sudah jelas tersebut dilaksanakan dengan konsisten atau tidak ? Kedua hal tersebutlah yang menentukan apakah sudah ada good corporate governance dalam suatu perusahaan.<br />
Dewasa ini, corporate governance sudah bukan merupakan pilihan lagi bagi pelaku bisnis, tetapi sudah merupakan suatu keharusan dan kebutuhan vital serta sudah merupakan tuntutan masyarakat. Setiap tindakan memerlukan pertanggungjawaban, baik itu tindakan bisnis, tindakan dalam dunia olah raga dan sebagainya, bahkan juga tindakan dalam perang. Bagi Indonesia, good corporate governance  dewasa ini merupakan salah satu persyaratan yang diminta oleh IMF yang harus diusahakan oleh Pemerintah Indonesia.</p>
<p><strong>Elemen Corporate Governance.</strong><br />
Tidak ada model yang baku mengenai corporate governance, karena bisa sangat berbeda antara satu organisasi dengan organisasi yang lain, tergantung dari jenis organisasi, besar kecilnya organisasi, dan budaya organisasi. Di sisi ekstrim yang satu, ada jenis perusahaan publik di mana model corporate governancenya sangat dipengaruhi oleh peraturan yang ketat, sedangkan di lembaga keagamaan, sangat dipengaruhi oleh kepercayaan dan tradisi.</p>
<p>Namun ada semacam aturan atau elemen umum yang perlu dikembangkan oleh setiap bagian organisasi atau perusahaan yaitu sebagai berikut.</p>
<ul>
<li>Ada identitas untuk setiap bagian.</li>
<li>Ada definisi dari tujuannya.</li>
<li>Bagaimana tujuan tersebut dicapai.</li>
<li>Kriteria keanggotaan atau kepemilikan.</li>
<li>Bagaimana bagian tersebut diatur.</li>
<li>Bagaimana bagian tersebut saling berhubungan.</li>
<li>Bagaimana kinerja bagian tersebut diukur.</li>
<li>Bagaimana pengaturan penghentian keanggotaan/kepemilikan.</li>
</ul>
<p><strong><br />
Corporate Governance Modern</strong><br />
Cikal bakal corporate governance modern adalah apa yang dapat ditimba dari pengalaman skandal Watergate di Amerika Serikat. Sebagai hasil dari berbagai investigasi yang dilakukan oleh para penyidik, para legislator berkesimpulan bahwa rupanya terdapat tidak cukup pengawasan yang dilakukan oleh perusahaan untuk menghindari pemberian kontribusi politik ilegal dan penyuapan pegawai pemerintah federal.</p>
<p>Pengalaman ini menyebabkan penyempurnaan Foreign and Corrupt Practice Act tahun 1977. Ini  kemudian diikuti dengan usulan Securities and Exchange Commision Amerika Serikat pada tahun 1979 untuk mengharuskan pelaporan keuangan internal. Pada tahun 1985, setelah terjadi kegagalan bisnis oleh perusahaan keuangan yang sangat terkenal yaitu Savings and Loan, terbentuklah Komisi Treadway.</p>
<p>Tugas utama Komisi ini ialah mengidentifikasi sebab-sebab utama dari kesalahan interpretasi dari laporan keuangan dan memberikan rekomendasi untuk menghilangkan atau mengurangi kesalahan tersebut. Tahun 1987, Komisi Treadway mengeluarkan laporan yang berisi rekomendasi perlunya suatu lingkungan pengawasan yang mencukupi seperti komite audit independen dan obyektif, perlunya kriteria untuk audit internal, perlunya laporan keuangan yang diumumkan secara publik, dan sebagainya.<br />
Sesuai dengan perkembangan di Amerika Serikat tersebut, di Inggris dibentuk COSO (Committee of Sponsoring Organisations). Laporan  COSO pada tahun 1992 menyatakan suatu kerangka kerja pengawasan, yang sebetulnya sudah dikembangkan dalam empat laporan sebelumnya yaitu laporan Cadbury, Rutteman, Hampel dan Turnbull.</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/onvalue.wordpress.com/3/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/onvalue.wordpress.com/3/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/onvalue.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/onvalue.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/onvalue.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/onvalue.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/onvalue.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/onvalue.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/onvalue.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/onvalue.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/onvalue.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/onvalue.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/onvalue.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/onvalue.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/onvalue.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/onvalue.wordpress.com/3/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=onvalue.wordpress.com&amp;blog=1872240&amp;post=3&amp;subd=onvalue&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://onvalue.wordpress.com/2007/10/09/sejarah-timbulnya-corporate-governance/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/da9ade381a3626aa7e9a8f1f9dd513d3?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">onvalue</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
